Kembali terhanyut dalam haru biru usaha masuk
Palestina*sedap sekali bahasanya*
#2 Konsekuensi ketika visa Israel sudah diteken di paspor.
Sungguh lidah tak bertulang jikalau ada orang yang menganggap visa Israel adalah sekedar visa, sebagaimana visa schengen eropa, visa umrah, visa trinidad&tobago, atau visa-visa yang lain. Visa Israel punya konsekuensi universal, bukan cuma konsekuensi kenegaraan(baca:sebagai entry permit kita ke sebuah negara). Visa itu bagaikan pedang bermata dua*duileee*, bisa jadi kartu
truf untuk menaklukkan petugas imigrasi di pintu2 perbatasan Palestina, tapi
bisa juga jadi alat untuk memperrunyam hidup kita sendiri.
Hal yang patut diwaspadai dan
dinegosiasikan saat kita mau masuk Palestina dengan visa Israel sudah di paspor
adalah : CAP! Kalau kita mau masuk ke suatu negara kan visa yang ada di paspor
kita dicap tuh, hal yang sangat diwanti-wanti oleh beberapa orang teman dan
saudara yang sudah biasa bepergian di dan ke timur tengah adalah jangan sampai
cap keramat itu “disematkan” di paspor kita.
Cap imigrasi Israel di paspor
akan membawa banyak sekali kesulitan bagi kita untuk berurusan dengan pihak
imigrasi di banyak negara di dunia ini. Bahkan di negara sendiri, Indonesia.
Waktu mendengar konsekuensi ini
sejujurnya aku jadi lumayan jiper. Ibarat jawaban artis-artis yang lagi pacaran
terus ditanya kapan mau nikah, jawabnya adalah “yaaa, hidup saya masih panjang”(sejujurnya
gue nggak ngerti dimana letak sambungan antara pertanyaan dan jawabannya itu).
Iya, hidup saya masih panjang dan masih banyak sekali tempat yang ingin saya
kunjungi dan pelajari. Dan timur tengah adalah salah satu obsesi terbesar saya.
Sedangkan adalah perkara yang jelas kalau bahkan ketika suatu negara di timur
tengah punya hubungan diplomatik sama Israel pun, itu tidak merubah paradigma
apapun dari sebagian besar penduduknya, bahwa Israel adalah seganas-ganas panu
jika diibaratkan wilayah timur tengah adalah kulit yang mulus kecokelatan(baru kali ini anda mendengar panu punya tingkat keganasan layaknya kanker? saya juga! hahaha).
Dan apa yang akan terjadi dengan nasib
masa depanku di bidang keimigrasian-Indonesia jikalau ada cap imigrasi Israel
di pasporku? Di negara sendiri seakan tertolak, apalagi di negara tetangga dan
negara-negara mayoritas muslim lainnya. Masa iya saya mau ngelamar jadi warga negara
Hungaria? *ngelunjak*.
Konsekuensi yang satu ini memang cukup runyam. Masa depan hobi dan ambisi berkelanaku dipertaruhkan! Tetapi aku tetap bahagia, tetap hidup sejahtera, di katulistiwa...
Karena, yang pertama, masalah ini disodorkan bersamaan
dengan solusinya. Di pintu imigrasi nanti, minta capnya di kertas lain aja.
Begitu kata orang-orang yang sudah berpengalaman. Dan katanya memang pihak
Israelnya sendiri tahu diri, dengan mudahnya mereka akan mengecapkan cap keramat
itu di kertas lain begitu mereka memutuskan bahwa saya adalah mahluk yang cukup
kece(baca:tidak menjadi ancaman nasional) untuk masuk ke wilayah mereka.
Alasan kebahagiaan dan kesejahteraanku yang kedua adalah justru ketika konsekuensinya universal, bukankah itu menunjukkan betapa masih banyak sekali orang di dunia ini
yang peduli pada Palestina? Yang
mengerti apa dan bagaimana tindak-tanduk Israel sehingga mereka menunjukkan
ketidaksetujuannya dengan cara yang mereka bisa. Misalnya mempersulit imigrasi
orang yang jelas2 di paspornya ada tanda keramat berupa cap itu?
Kalau sabda nabi, orang muslim itu bagaikan satu tubuh. satu bagian terluka, yang lainpun akan merasakan.
Itulah kenapa dengan mudah aku mengabaikan orang yang suka berkata nyinyir "ngapain ngurusin Palestina. itu bukan negara kita. di negara kita giliran tkw disiksa orang pada diem aja".
Menurutku fokus ini hanyalah sesimpel spesialisasi dokter. Ada orang yang suka dengan urusan konflik antar negara macam ini, sehingga dia memilih untuk vokal di bidang ini. Ada juga orang2 yang suka hal-hal lain sehingga mereka memilih untuk vokal di bidang lain. Sesimpel itu.Kalau satu orang pingin ngurusin semuanya, yang ada masalah-masalah tersebut tidak jadi terselesaikan.
Dan menurutku, ketika kita menerima diri kita menjadi seorang Muslim, hilang sudah batasan-batasan negara. Bukan berarti harus menghilangkan sistem negara seperti yang sekarang ini ada. Sejujurnya, daripada menghabiskan energi untuk berjuang menghilangkan negara, lebih baik berjuang untuk menanamkan sebenar-benarnya ajaran Islam pada umat-umatnya. Menegakkan kalimat tauhid dan mengembalikan kemuliaan agama kita. Perjuangannya dikembalikan pada hal yang lebih esensial dan efeknya lebih luas daripada sekedar : menghilangkan negara*kumaha carana coba?*
Karena bagi orang Islam, seharusnya,batasan negara itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Menurutku negara itu sesimpel alamat rumah. Visa, entry permit, paspor, dan berbagai macam tetek bengek keimigrasian yang aku sendiri lebih memilih untuk koprol mundur daripada ngurusin yang begituan karena agak ribet itu cukuplah dimaknai sesimpel : ya namanya masuk rumah orang itu musti ijin. namanya masuk rumah orang itu musti jelas kita siapa dan keperluannya apa? Kalau ada orang yang bagaikan turun dari langit saking enggak jelas asal muasalnya masuk ke rumah kita dengan tiba-tiba, dan tanpa permisi, kita pasti langsung ambil sapu ijuk dan pasang kuda2 siap bertarung kaaan?*DUILEEEEEE!!!*
Adalah hal yang wajar, fitrah kalo bahasa kerennya mah, ketika manusia ingin hidup berkelompok dengan sesamanya (baca : punya kemiripan dalam banyak hal). Tapi ketika harus berbaur pun, orang Islam itu akan mudah sekali merasa seperti saudara. Hanya dengan saling memandang jilbab yang dipake, bahkan ketika kita sama2 tidak mengerti bahasa masing2 pun, cukuplah salam untuk saling bertegur sapa. sholat untuk merasakan esensi rapatkan-barisan,dan lain-lain.
Kalau sabda nabi, orang muslim itu bagaikan satu tubuh. satu bagian terluka, yang lainpun akan merasakan.
Itulah kenapa dengan mudah aku mengabaikan orang yang suka berkata nyinyir "ngapain ngurusin Palestina. itu bukan negara kita. di negara kita giliran tkw disiksa orang pada diem aja".
Menurutku fokus ini hanyalah sesimpel spesialisasi dokter. Ada orang yang suka dengan urusan konflik antar negara macam ini, sehingga dia memilih untuk vokal di bidang ini. Ada juga orang2 yang suka hal-hal lain sehingga mereka memilih untuk vokal di bidang lain. Sesimpel itu.Kalau satu orang pingin ngurusin semuanya, yang ada masalah-masalah tersebut tidak jadi terselesaikan.
Dan menurutku, ketika kita menerima diri kita menjadi seorang Muslim, hilang sudah batasan-batasan negara. Bukan berarti harus menghilangkan sistem negara seperti yang sekarang ini ada. Sejujurnya, daripada menghabiskan energi untuk berjuang menghilangkan negara, lebih baik berjuang untuk menanamkan sebenar-benarnya ajaran Islam pada umat-umatnya. Menegakkan kalimat tauhid dan mengembalikan kemuliaan agama kita. Perjuangannya dikembalikan pada hal yang lebih esensial dan efeknya lebih luas daripada sekedar : menghilangkan negara*kumaha carana coba?*
Karena bagi orang Islam, seharusnya,batasan negara itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Menurutku negara itu sesimpel alamat rumah. Visa, entry permit, paspor, dan berbagai macam tetek bengek keimigrasian yang aku sendiri lebih memilih untuk koprol mundur daripada ngurusin yang begituan karena agak ribet itu cukuplah dimaknai sesimpel : ya namanya masuk rumah orang itu musti ijin. namanya masuk rumah orang itu musti jelas kita siapa dan keperluannya apa? Kalau ada orang yang bagaikan turun dari langit saking enggak jelas asal muasalnya masuk ke rumah kita dengan tiba-tiba, dan tanpa permisi, kita pasti langsung ambil sapu ijuk dan pasang kuda2 siap bertarung kaaan?*DUILEEEEEE!!!*
Adalah hal yang wajar, fitrah kalo bahasa kerennya mah, ketika manusia ingin hidup berkelompok dengan sesamanya (baca : punya kemiripan dalam banyak hal). Tapi ketika harus berbaur pun, orang Islam itu akan mudah sekali merasa seperti saudara. Hanya dengan saling memandang jilbab yang dipake, bahkan ketika kita sama2 tidak mengerti bahasa masing2 pun, cukuplah salam untuk saling bertegur sapa. sholat untuk merasakan esensi rapatkan-barisan,dan lain-lain.
Intinya, Perjuangan kita atas hak
saudara-saudara kita sesama muslim dan sesama manusia di sana tidak sendirian.
Maka
dari itu, bersemangatlah.
Palestine, tomorrow will be free.. Insha Allah. :)
2 komentar:
Wah keren ukhti..
jadi pengen juga ke Palestinanya.. :D
Malah sekarang nyangsang di US.. heheh
What will you do in the palestine?
I'll catch up with your blog then.. ^^
Itu nyangsangnya oke banget dok! Hahaha
Mau ada misi dok. Kmpanye pembebasan jerussalem dari tangan zionis. Doanya dok, semoga mincinya dilancarkan.. :)
Poskan Komentar