Tadi, selain diajak untuk berpikir kehidupan masa lansia, kita juga diajak untuk berpikir bagaimanakah kita akan memperlakukan anak-anak kita?
Apa yang terlalu berbeda dari anak-anak yang hidup di panti asuhan, dengan anak-anak yang orang tuanya saking sibuknya sampai tidak bisa memberikan home-based education. Pendidikan benar-benar diserahkan sama bangku sekolah formal dan bahkan.. pembantu? Perbedaannya sebenarnya nggak signifikan..
Untuk kita yang wanita-wanita kepala dua ini, ajakan untuk berpikir tentang hal2 seperti ini tu bikin kalap! hahaha.
Selama ini aku sudah menemukan beberapa pola yang kuanggap bagus untuk mengkompromikan kesibukan dengan anak.
Aku pernah membandingkan anaknya tanteku dengan anak seseorang. Seseorang, sebut saja namanya.. Bunga *NGOK!*.
Tanteku adalah seorang entrepreneur. Bisnisnya banyak dan cukup berkembang alhamdulillah. Selain bisnis, dia juga mengelola sekolah BIAS, bareng sama ibukku. Anak tanteku ada 8. Si bungsu, cewek sendiri, lahir tahun 2009 atau awal 2010 gitu.
Tanteku adalah orang yang sangat mobile. rapat sini rapat sana. urus sini urus sana. dia adalah the woman behind the gun. hehehe. Sejak masih kecil, si bungsu ini selalu diajak kemana-mana. diajak rapat, diajak ngurus bisnis, diajak ngurus sekolah, diajak ngaji, dan lain-lain, dan lain-lain. Bahkan si bungsu ini sudah pernah diajak bolak-balik ke tanah suci. 2 kali! gue yang kepala dua aja belom pernah sekali-kali pun!*perasaan dengki membuncah.. hwahahaha*. Sepupuku ini adalah anak yang sering diajak sibuk sama ibuknya.
Sedangkan Bunga. Dia juga seorang entrepreneur. Tapi dia lebih memilih mendidik anaknya di rumah. Mengurus bisnis dari rumah, sehingga bisa merawat anaknya di rumah. Anak si Bunga ini usianya lebih tua daripada anaknya tanteku. Selisih dua tahun kalau nggak salah.
Aku membandingkan perkembangan anak tanteku dengan anaknya Bunga.
Yang paling simpel dan kelihatan adalah dari segi kemampuan berbahasa.
Anak Bunga di usia 3 tahun(waktu aku menyaksikannya), bicaranya bisa dibilang masih dalam tahap babbling. "watatata dadadaa". Dia sudah bisa mengidentifikasi kucing tapi tidak bisa bilang "kucing".
Sedangkan anaknya tanteku di usianya yang baru dua tahun sudah bisa diajak "ngobrol".
Kayak waktu ditanya "bang Taqi (nama kakaknya yang kuliah di jogja) dimana?" dia sudah bisa jawab "bang taqi di jogja". Waktu habis sholat maghrib diajak ngaji, dia udah bisa ngambil Quran sendiri terus teriak dengan cemprengnya "ALLAHUMMA!". (emang ada yah surat di alQuran yang depannya "allahumma"? hwahahaha)
Atau waktu aku usil make topinya dia udah bisa bilang "topi aisyah, topi aisyah!", minta topinya dibalikin.
Jadi aku membayangkan, anak itu emang seharusnya tidak "dikurung" di rumah. Harus diajak sibuk gitu. Biar dia bisa dapet stimulus untuk perkembangannya dari mana-mana.
Dan menurutku, ibu yang luar biasa hebat itu bukan ibu yang rela menghabiskan waktu di rumah menemani anaknya. Tapi ibu yang rela berpeluh-peluh membawa anaknya sibuk bersama dia. Ibu yang seperti ini mentalnya lebih hebat, karena tingkah polah anak belum tentu semua orang memaklumi. Si anak mah bisa cuek dengan segala keusilan dia, tapi si ibu? Butuh usaha lebih untuk itu.
Emang repot kalau misalnya kita jadi ibu yang bekerja pada suatu sistem. Kerja kantoran misalnya.
Itulah kenapa aku nggak mau pisan kerja kantoran. Selain aku naturenya orang yang susah banget hidup dengan kehidupan terjadwal secara monoton kayak gitu, aku tetep pingin punya waktu lebih buat anak-anakku tapi bukan dengan metode mengurung diri-di-rumah-gabung-sama-komunitas-mlm-on-line kayak yang sekarang lagi tren itu.
Aku pingin jadi Victoria Beckham versi muslimah*doeeeeng!*. Anak digendong di tangan kiri, tangan kanan pake tas model wanita, baju super modis, sepatu boots semi high-heels, mondar-mandir mengurusi bisnis. Hwahahaha.
Amin amin amin.
![]() |
| Victoria Beckham menggendong Harper Seven Beckham |

2 komentar:
great!
terimakasih, semoga bisa jadi ibu yang seperti ini beneran. hehehe :)
Poskan Komentar