Minggu, 27 November 2011

Kamis Manis


Udah lama nggak nulis, saudara..
                Hari ini pingin nulis hal2 kejadian sehari-hari yang terjadi kemarin, hari Kamis. Tidak ada yang tidak lawak special dalam kehidupan seorang Tazkia Fatimah. Alhamdulillah.hahaha :D
                Dimulai dengan mentoring.
                Hari ini aku sukses membuat adek mentorku menangis. Hahaha*malah bangga*. Aku mengambil materi mentoring kali ini tentang shirah. Spesifiknya tentang kisah Mush’ab bin Umair. Kisah yang membuat terenyuh memang, tapi aku tidak mengira kalo adek mentorku sampe ada yang menangis waktu kuceritain kisahnya.
                Yang paling juleha adalah, hikmah yang kita ambil dari kisah Mush’ab bin Umair. Selain tentang alasan seseorang mempertahankan kekufurannya yang ternyata sebenarnya lebih karena alasan dunia itu, ada satu hal lagi yang kuharapkan akan adik2ku sampaikan waktu aku Tanya pada mereka soal hikmah dari kisah tersebut. Yaitu tentang kepemudaan. Mush’ab bin Umair kan seorang pemuda yang usianya nggak jauh2 dari kita2 ini, harapannya kita bisa merasakan semangat setelah mendengar kisah tentang seseorang yang usianya sebaya dengan kita tapi dengan kontribusi pada agama yang begitu besar. Bahkan sampai menyerahkan nyawa.
                Senengnya aku pada adek2ku adalah mereka aktif. Aktifnya serius2 lawak gitu lah..Cerdas. Dapet banget kok uraian mereka soal semangat dari kisah Mush’ab bin Umair itu, DAPET BANGET. Bahkan kemudian hikmah itu dielaborasi. Dari KEPEMUDAAN pembahasan malah mbleber2 jadi ngomongin PEMUDA. Masih nyambung kaan pemirsaaa? NYAMBUNG BANGET! Hahahaha :p
                Suasananya kuarahkan sedemikian mungkin supaya jauh2 dari kata galau dan mellow. Kita membahas tentang pemuda, tapi kita membahasnya dengan serius (serius standar pemain srimulat, tapi teteup sarat makna insya Allah,hehehe). Ada salah seorang adek mentorku yang Tanya : kriteria pemuda yang seperti Mush’ab kalau di jaman sekarang seperti apa. Jadi deh kita mbahas soal PEMUDA dalam artian sebenarnya. Tapi sekali lagi, aku membuang jauh2 suasana galau dan mellow dari situ. Meskipun tetep aja ujung2nya saling nyeletuk “wah si ini galaaauu” “waaah si anu galaaau”, tapi kalo anda melihat suasana mentoring saya tadi siang sodara2, itu bener2 lebih mirip kumpulan pemain srimulat yang sedang merapatkan adegan untuk pertunjukan lawak 17an daripada orang yang sedang berbicara tentang hal2 yang berkesan romantis.
                Di akhir mentoring, entah apa dan bagaimana, pembicaraan kita berujung pada : minggu depan kita mentoring di atas perahu di arboretum. Hyuuuk mariii…*melambai* hahahaha
                Setelah mentoring, aku ngendon di AsySyifaa. Membajak hotspot kampus untuk ngerjain tugas publikasi ta’lim Universe minggu depan. Mengambil momen tahun baru hijriyah 1 Muharram 1433 H, kita memutsukan untuk membahas tentang perayaan yang banyak dilakukan masyarakat yang sayangnya sering berujung pada kesyirikan.
                Bingung sebingung-bingungnya karena nama acara bahkan belum ada. Itu berarti jadi semacam tanggungjawab saya juga untuk memberi nama yang asyik pada acara ini. Tadinya mau kukasih nama END. Tapi nggak HIP gitu lhooo namanya. Filosofinya sih ada : ta’lim terakhir Asy-Syifaa(di kepengurusan tahun ini) di awal tahun. Tapi asa kayak nama2 keluaran perkumpulan ibu2 Dharma Wanita bangeeet gitu.
                Setelah pikiran kosong saking nggak nemunya ide, akhirnya terbersit sebuah ide PAMUNGKAS! Nama yang muncul waktu itu adalah : BUKAN MUHARROM HIJRIE.  Muharrom Hijrie itu kuambil dari nama ketua departemen Universe : Muharrom Hijrie Nurpatikana.
                Tapi aku agak kasian gitu sama Hijrienya. Hahaha. Tapi aku sudah terlanjur cucok sama konsep “mengeksploitasi nama Hijrie” untuk publikasi ini. Akhirnya aku coba2 menjadikannya semacam slogan : dapatkan momen 1 Muharrom yang sebenarnya! Bukan Muharrom yang penuh ritual irasional, bukan pula Muharrom Hijrie!!  Ngahahaha. Tapi kalau aku bikin slogan macam ini, harus ada juga pemaparan kira2 isi ta’lim kali ini apa. Soalnya kan dari slogan itu belum kelihatan gambaran isinya. Karena publikasi yang terlalu banyak kata itu kurang efektif, akhirnya aku biarkan slogan itu yang mengalah (kasian Hijrienya juga, hahaha). Akhirnya yang terpampang di poster publikasi adalah gambaran isi dari ta’lim Universe Senin nanti : bagaimana memaknai tahun baru ini? Mengikuti tradisi? Atau berbenah diri?
                Tapi Karena itu tadi, sudah kadung tresno kalau orang jawa bilang, terlanjur cinta kalau Wali band berdendang, aku tetep memakai slogan berkonsep Hijrie tadi. Jadi status fesbuk dan akan kuminta untuk dijarkomin lewat jarkom AsySyifaa.
                Semoga acara ta’lim asy-syifaa yang terakhir di kepengurusan ini sukses yaa? Materinya mantep, yang datang pun padet! Semuanya dateng yaaa? Persembahan dari Universe loh ini…  :D

0 komentar: