Tahya Batuta !!!
Kamis, 17 Mei 2012
maaf ya belum bisa update. Sedang menyelesaikan naskah buku :)
Minggu, 04 Maret 2012
GMJ : a dreams come true?
Saya sudah tidak ingat kapan pertama kali saya tau yang namanya MERC. Itu sudah lama sekali. Pengetahuan awal saya tentang MERC adalah "sesuatu" yang suka ngirim dokter ke tempat-tempat yang gawat. Dulu bahkan saya nggak tahu singakatan MERC itu apa. Saya baru tau kalo MERC stands for Medical Emergency Rescue Committee itu waktu SMA.
Satu yang pasti, dari dulu saya sudah terpesona sama "sesuatu" ini. Pokonya MERC sudah menjadi "sesuatu" di benak saya bahkan jauh jauuuuh sebelum Syahrini mempopulerkan istilah "sesuatu". hahaha
Kalo Palestina, saya ingat. Pertama kali tahu soal Palestina itu waktu SD. Ayah dulu suka beli(entah langganan) majalah Sabili. Waktu SD saya suka baca majalah sabli lama ayah yang bertumpuk-tumpuk. Di situlah awal perkenalan saya dengan konflik-konflik yang menimpa umat Muslim. Konflik yang pertama kali saya kenal itu adalah pembantaian muslim di Bosnia. Saya bahkan masih inget foto-foto korban pembantaian yang dipampang di majalah itu.
Memori paling kental dari Palestina waktu saya masih SD adalah waktu saya baca artikel yang bercerita tentang tentara Israel yang pada gila karena depresi setelah melakukan kekejaman di luar batas kemanusiaan pada warga sipil palestina. Saya inget banget perasaan PUAAASSS waktu baca hal itu. hahahaha. waktu masih SD wajah saya memang belum penuh tipu daya seperti sekarang*duileee* tapi taring sama tanduknya sudah keluar..ngehehehe
Nasib-nasib saudara sesama muslim itu sudah terafiliasi dengan kuat sejak saya masih kecil.
Dan sejak itu, saya tidak pernah tidak berkeinginan untuk jadi bagian dari orang yang terlibat di dalamnya : MERC dan Palestina.
Sejak awal saya memutuskan untuk jadi dokter, waktu SMP, bayangan saya tentang profesi dokter cuma 1 : dokter yang kerja di daerah-daerah gawat. Soalnya dulu ayah sering sekali cerita tentang teman-temannya yang dokter dan pergi sebagai tim medis di daerah-daerah konflik semacam Afghanistan, Irak, dan sebagainya. Somehow saya melihat raut kebanggan di wajah ayah saya waktu beliau cerita tentang teman-temannya itu. Dan dari situlah mimpi untuk suatu saat dapet panggilan "Halo dokter Tazkia, gaza diserang, siap berangkat?" selalu terpatri dalam benak.
Beberapa waktu yang lalu ibu saya mengingatkan saya tentang salah satu alasan saya untuk kuliah di Bandung. Alasan yang bahkan saya sudah lupa kalau pernah ngomong kayak begitu waktu meyakinkan ibu saya supaya saya boleh kuliah di Bandung.
Saya ke Bandung untuk mendekati Jakarta, karena MERC. Dalam bayangan saya waktu itu, MERC Bandung pastilah "gedhe"nya kurang lebih sama kayak MERC Jakarta. Kan "cabang" yang paling deket. Kalo gedhenya sama MERC Jakarta udah mirip, kesempatan-kesempatan untuk bisa jadi dokter "kemana-mana" akan terbuka lebar.
Dan ternyata oh ternyata, waktu udah nyampe Bandung, udah kuliah di FK UNPAD saya baru tahu kalau .. di Bandung nggak ada MERC. *DOOOOEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEENNNGG!!!* Hahahaha.
MERC boleh gaib di Bandung, tapi mimpi untuk jadi (bahasa kerennya) volunteer doctor tetap jalan.
Sempat merasa hopeless dengan mimpi itu karena saya merasa jalan hidup saya di FK UNPAD bisa dibilang iya-iya enggak-enggak. Semakin lama menjalani rasanya semakin nggak ngerti kenapa Allah membutakan hati saya untuk memilih FK dan hanya FK. Sampai2 meninggalkan "masa jaya" di Sastra Perancis UGM*HIDUP sastra perancis UGM!hahaha*. Rasanya saya tidak menemukan alasan yang begitu signifikan atas keberadaan saya di FK UNPAD.
Mimpi jadi volunteer doctor? jauh itu mah! apa yang saya lalui dan jalani di FK UNPAD kayaknya tidak mengarah ke sana (menurut saya seperti itu). Ikut TMA kagak (seleksinya sih iya, tapi ya.. hahaha, tau sendiri lah hasilnya), organisasi-organisasi yang peduli2 amat sama masyarakat enggak, paling BSMI, itupun baru pernah turun sekali untuk Balai Pengobatan.
Volunteer doctor? jaoooohhh.. hahaha. Yang paling nyambung(inipun agak jauh sebenernya) adalah usaha saya untuk bikin lahan wirausaha saya bisa matang sebelum saya sumdok, demi sumber dana di masa depan. supaya idealisme ini teteup kokoh.
Entah yaaa.. mungkin dengan semua perasaan aimless, useless, worthless, dan less-less yang lain itu Allah seakan ingin menciptakan kondisi yang membuat saya merasa harus istirahat sejenak untuk bangun kekuatan yang lebih lagi demi menjalani kehidupan yang serba less ini(setidaknya di mata saya) ke depannya. Akhirnya matanglah rencana itu : MAU CUTI 6 BULAN SEBELUM KOAS. Bukan cuti sekedar cuti, cuti ini saya rencanakan dengan sepenuh profesionalisme dan bukannya berupa "rancangan liburan orang yang sedang depresi".hehehe
Dan dengan cuti ini seakan Allah ingin menciptakan kondisi dimana saya bisa dengan gampangnya memutuskan untuk mendaftar GMJ(global march to jerussalem) yang jelas-jelas di situ memakan waktu.
Sabtu, 25 Februari 2012, sekitar jam 14.30
Saya mengirim berkas pendaftaran ke email "global march to jerussalem".Formulir yang sudah diisi (termasuk contrengan "tidak" pada kolom pertanyaan "sudah pernah ke daerah konflik", pertanyaan yang paling bikin jiper,hehehe), hasil scan paspor, hasil scan KTP, dan foto berwarna.Bismillah, apapun yang terjadi, terjadilah, Allah maha berkehendak.
Sabtu, 25 Februari 2012. Jam 15.45
Saya sedang autis sendiran makan di Jatos sambil baca buku waktu telpun itu datang : ."Assalamu'alaykum.." Kata suara wanita di seberang. Subhanalloh, jadi grogi waktu tahu yang menelpun adalah pihak MERC. hehehe. Air mata berasa mau tumpah waktu teh Rini, teteh yang menelpun, bilang "tazki lagi cuti yaa? kalo tazki suka backpackeran, mending tazki ikut GMJ yang rute satu aja. Besok senin bisa dateng ke kantor MER-C buat nyerahin paspor? Nanti kita susulin pengurusan visanya..."
Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan pada saya secara tak sengaja, bener2 tak sengaja itu mah, sebuah link di fesbuk tentang GMJ ini.
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan saya dorongan hati untuk terus menelusuri program GMJ ini hingga sampailah pada sebuah ulasan tentang syarat-syarat bagi mereka yang ingin mendaftar jadi peserta program ini.
Segala puji bagi Allah yang entah bagaimana, meluluskan saya. Padahal saya mendaftar untuk program GMJ yang rute 1 itu sudah sangat telat. Kalau di ulasan di website GMJ, batas akhir pendaftaran peserta GMJ rute 1 adalah tanggal 11 februari kalo nggak salah. Sedangkan saya tau ada program GMJ saja sudah tanggal 20an Februari. Dan ngirim berkas baru tanggal 25nya.
Segala puji bagi Allah yang memberikan saya ayah dan ibu yang begitu suportif. Mendorong saya untuk "coba dulu dikirim berkasnya, siapa tau masih bisa nyusul buat ikut yang rute 1". Dan bahkan tidak menunjukkan kebimbangan apapun tentang program yang sebenarnya penuh risiko ini (sejak saya diterima, hal yang selalu diwanti-wanti oleh pihak MERCnya adalah "siap fisik dan mental!" karena di lapangan kita akan berurusan sama Israel yang yaaa.. you know how lah.. sulit ditebak dan tentu saja sepanjang jalan kita akan melintassi wilayah-wilayah yang cukup berkonflik{bahkan menurut salah seorang peserta gmj rute 2, yang berangkat langsung dari jakarta ke jordan tanggal 28Maret, rombongan mereka nggak akan diberangkatkan kalau rombongan GMJ rute 1 "nggakselamat". dia ngasih contohnya : ditawan taliban misalnya} hehehe. na'udzubillah yaa). Mereka tidak pernah berkata apapun selain :dukungan. Bahkan waktu saya harus ngebut untuk nyiapin berkas pengurusan visa kedua orangtua saya ikutan repot.
Bismillah.
Urusan visa saya sudah beres, alhamdulillah.
Minggu depan, insya Allah, saya berangkat bersama 20an relawan lain.
Kami akan menempuh rute INDIA-PAKISTAN-IRAN-TURKI-SURIAH-LIBANON-JORDAN-PALESTINA via jalur darat bersama peserta GMJ dari seluruh Asia. Dan disepanjang jalan kami akan singgah untuk mengkampanyekan kemerdekaan Palestina pada masyarakat.
Tanggal 30 Maret 2012, insya Allah, seluruh peserta GMJ dari seluruh dunia akan berkumpul di Jordan lalu melakukan konvoy bersama-sama via jalur darat sampai ke Jerussalem. Di sana, bagi mereka yang muslim akan pergi ke Al-Aqsha, yang nasrani ke tempat suci mereka sendiri, dan yang yahudi ke tembok ratapan.
Inti dari gerakan ini adalah : kampanye damai kemerdekaan palestina.
Misi pertama saya ke Palestina, ke daerah konflik, bersama MERC pula...
Sebuah mimpi yang terjawab (bahkan sebelum saya jadi dokter)?
Bismillah, sampai masanya saya berada di sana, sampai saya pulang bahkan, saya akan berdoa, semoga Allah berkehendak supaya ini menjadi nyata.
Semoga ini jadi yang pertama, dan bukan yang terakhir.
Palestina, saya datang..
:)
Minggu, 26 Februari 2012
Global March to Jerussalem rute 1, i'm coming
Segala puji bagi Allah. Allahuakbar.
Sabtu, 25 Februari 2012. Sekitar jam 14.30
Aku mengirim berkas pendaftaran ke email "global march to jerussalem".
Formulir yang sudah diisi (termasuk contrengan "tidak" pada kolom pertanyaan "sudah pernah ke daerah konflik", hehehe), hasil scan paspor, hasil scan KTP, dan foto berwarna.
Bismillah, apapun yang terjadi, terjadilah, Allah maha berkehendak.
Sabtu, 25 Februari 2012. Jam 15.45
Aku sedang makan di Jatos. Pempek palembang di jatos emang paling yahuy se-Jatinangor. Tea Cream air mata kucing, seperti yang biasanya aku beli tiap main2 ke foodcourt jatos.
Ada telpun masuk.
Segala puji bagi Allah yang mendorongku untuk mengangkat telpun itu.
"Assalamu'alaykum.." Kata suara wanita di seberang. Subhanalloh, jadi grogi waktu tahu yang menelpun adalah pihak MER-C(medical emergency rescue committee). Itu semacam organisasi kegawatdaruratan medis, dan yang bikin grogi adalah itu organisasi impianku sejak masih kecil. Sejak SD aku sudah tahu ada yang namanya MER-C, dan sejak memutuskan jadi dokter, aku selalu berharap suatu saat aku akan bergabung bersama mereka. Dan sekarang ditelpun langsung sama pihak MER-Cnya, hilang sudah segala kealayanku.. hahahaha :)) groginya bagaikan Anang Hermansyah melihat Ashanty di hari lamaran*naoon deh*.. hehehe
Air mata berasa mau tumpah waktu teh Rini, teteh yang menelpun, bilang "tazki lagi cuti yaa? kalo tazki suka backpackeran, mending tazki ikut GMJ yang rute satu aja. Besok senin bisa dateng ke kantor MER-C buat nyerahin paspor? Nanti kita susulin pengurusan visanya..."
Sujud syukurku padaMu ya Allah.
Doaku padaMu semoga semua proses ini dilancarkan. Dari mulai imigrasi sampai pelaksanaan.
Insha Allah, tanggal 6 Maret, rombongan GMJ jalur 1 akan berangkat.
Mengusung misi kampanye pembebasan yerussalem dan Palestina dari cengkraman zionis.
Melintasi India-Pakistan-Iran-Turki-Suriah-Libanon-Yordania-Yerussalem via jalur darat.
Doakan saya ya teman-teman :)
Semoga proses imigrasi saya lancar.
Semoga misi ini signifikan.
Izinkanlah ya Allah
Sabtu, 25 Februari 2012. Sekitar jam 14.30
Aku mengirim berkas pendaftaran ke email "global march to jerussalem".
Formulir yang sudah diisi (termasuk contrengan "tidak" pada kolom pertanyaan "sudah pernah ke daerah konflik", hehehe), hasil scan paspor, hasil scan KTP, dan foto berwarna.
Bismillah, apapun yang terjadi, terjadilah, Allah maha berkehendak.
Sabtu, 25 Februari 2012. Jam 15.45
Aku sedang makan di Jatos. Pempek palembang di jatos emang paling yahuy se-Jatinangor. Tea Cream air mata kucing, seperti yang biasanya aku beli tiap main2 ke foodcourt jatos.
Ada telpun masuk.
Segala puji bagi Allah yang mendorongku untuk mengangkat telpun itu.
"Assalamu'alaykum.." Kata suara wanita di seberang. Subhanalloh, jadi grogi waktu tahu yang menelpun adalah pihak MER-C(medical emergency rescue committee). Itu semacam organisasi kegawatdaruratan medis, dan yang bikin grogi adalah itu organisasi impianku sejak masih kecil. Sejak SD aku sudah tahu ada yang namanya MER-C, dan sejak memutuskan jadi dokter, aku selalu berharap suatu saat aku akan bergabung bersama mereka. Dan sekarang ditelpun langsung sama pihak MER-Cnya, hilang sudah segala kealayanku.. hahahaha :)) groginya bagaikan Anang Hermansyah melihat Ashanty di hari lamaran*naoon deh*.. hehehe
Air mata berasa mau tumpah waktu teh Rini, teteh yang menelpun, bilang "tazki lagi cuti yaa? kalo tazki suka backpackeran, mending tazki ikut GMJ yang rute satu aja. Besok senin bisa dateng ke kantor MER-C buat nyerahin paspor? Nanti kita susulin pengurusan visanya..."
Sujud syukurku padaMu ya Allah.
Doaku padaMu semoga semua proses ini dilancarkan. Dari mulai imigrasi sampai pelaksanaan.
Insha Allah, tanggal 6 Maret, rombongan GMJ jalur 1 akan berangkat.
Mengusung misi kampanye pembebasan yerussalem dan Palestina dari cengkraman zionis.
Melintasi India-Pakistan-Iran-Turki-Suriah-Libanon-Yordania-Yerussalem via jalur darat.
Doakan saya ya teman-teman :)
Semoga proses imigrasi saya lancar.
Semoga misi ini signifikan.
Izinkanlah ya Allah
Sabtu, 25 Februari 2012
Masuk Palestina : Buah Pemikiran #2
Kembali terhanyut dalam haru biru usaha masuk
Palestina*sedap sekali bahasanya*
#2 Konsekuensi ketika visa Israel sudah diteken di paspor.
Sungguh lidah tak bertulang jikalau ada orang yang menganggap visa Israel adalah sekedar visa, sebagaimana visa schengen eropa, visa umrah, visa trinidad&tobago, atau visa-visa yang lain. Visa Israel punya konsekuensi universal, bukan cuma konsekuensi kenegaraan(baca:sebagai entry permit kita ke sebuah negara). Visa itu bagaikan pedang bermata dua*duileee*, bisa jadi kartu
truf untuk menaklukkan petugas imigrasi di pintu2 perbatasan Palestina, tapi
bisa juga jadi alat untuk memperrunyam hidup kita sendiri.
Hal yang patut diwaspadai dan
dinegosiasikan saat kita mau masuk Palestina dengan visa Israel sudah di paspor
adalah : CAP! Kalau kita mau masuk ke suatu negara kan visa yang ada di paspor
kita dicap tuh, hal yang sangat diwanti-wanti oleh beberapa orang teman dan
saudara yang sudah biasa bepergian di dan ke timur tengah adalah jangan sampai
cap keramat itu “disematkan” di paspor kita.
Cap imigrasi Israel di paspor
akan membawa banyak sekali kesulitan bagi kita untuk berurusan dengan pihak
imigrasi di banyak negara di dunia ini. Bahkan di negara sendiri, Indonesia.
Waktu mendengar konsekuensi ini
sejujurnya aku jadi lumayan jiper. Ibarat jawaban artis-artis yang lagi pacaran
terus ditanya kapan mau nikah, jawabnya adalah “yaaa, hidup saya masih panjang”(sejujurnya
gue nggak ngerti dimana letak sambungan antara pertanyaan dan jawabannya itu).
Iya, hidup saya masih panjang dan masih banyak sekali tempat yang ingin saya
kunjungi dan pelajari. Dan timur tengah adalah salah satu obsesi terbesar saya.
Sedangkan adalah perkara yang jelas kalau bahkan ketika suatu negara di timur
tengah punya hubungan diplomatik sama Israel pun, itu tidak merubah paradigma
apapun dari sebagian besar penduduknya, bahwa Israel adalah seganas-ganas panu
jika diibaratkan wilayah timur tengah adalah kulit yang mulus kecokelatan(baru kali ini anda mendengar panu punya tingkat keganasan layaknya kanker? saya juga! hahaha).
Dan apa yang akan terjadi dengan nasib
masa depanku di bidang keimigrasian-Indonesia jikalau ada cap imigrasi Israel
di pasporku? Di negara sendiri seakan tertolak, apalagi di negara tetangga dan
negara-negara mayoritas muslim lainnya. Masa iya saya mau ngelamar jadi warga negara
Hungaria? *ngelunjak*.
Konsekuensi yang satu ini memang cukup runyam. Masa depan hobi dan ambisi berkelanaku dipertaruhkan! Tetapi aku tetap bahagia, tetap hidup sejahtera, di katulistiwa...
Karena, yang pertama, masalah ini disodorkan bersamaan
dengan solusinya. Di pintu imigrasi nanti, minta capnya di kertas lain aja.
Begitu kata orang-orang yang sudah berpengalaman. Dan katanya memang pihak
Israelnya sendiri tahu diri, dengan mudahnya mereka akan mengecapkan cap keramat
itu di kertas lain begitu mereka memutuskan bahwa saya adalah mahluk yang cukup
kece(baca:tidak menjadi ancaman nasional) untuk masuk ke wilayah mereka.
Alasan kebahagiaan dan kesejahteraanku yang kedua adalah justru ketika konsekuensinya universal, bukankah itu menunjukkan betapa masih banyak sekali orang di dunia ini
yang peduli pada Palestina? Yang
mengerti apa dan bagaimana tindak-tanduk Israel sehingga mereka menunjukkan
ketidaksetujuannya dengan cara yang mereka bisa. Misalnya mempersulit imigrasi
orang yang jelas2 di paspornya ada tanda keramat berupa cap itu?
Kalau sabda nabi, orang muslim itu bagaikan satu tubuh. satu bagian terluka, yang lainpun akan merasakan.
Itulah kenapa dengan mudah aku mengabaikan orang yang suka berkata nyinyir "ngapain ngurusin Palestina. itu bukan negara kita. di negara kita giliran tkw disiksa orang pada diem aja".
Menurutku fokus ini hanyalah sesimpel spesialisasi dokter. Ada orang yang suka dengan urusan konflik antar negara macam ini, sehingga dia memilih untuk vokal di bidang ini. Ada juga orang2 yang suka hal-hal lain sehingga mereka memilih untuk vokal di bidang lain. Sesimpel itu.Kalau satu orang pingin ngurusin semuanya, yang ada masalah-masalah tersebut tidak jadi terselesaikan.
Dan menurutku, ketika kita menerima diri kita menjadi seorang Muslim, hilang sudah batasan-batasan negara. Bukan berarti harus menghilangkan sistem negara seperti yang sekarang ini ada. Sejujurnya, daripada menghabiskan energi untuk berjuang menghilangkan negara, lebih baik berjuang untuk menanamkan sebenar-benarnya ajaran Islam pada umat-umatnya. Menegakkan kalimat tauhid dan mengembalikan kemuliaan agama kita. Perjuangannya dikembalikan pada hal yang lebih esensial dan efeknya lebih luas daripada sekedar : menghilangkan negara*kumaha carana coba?*
Karena bagi orang Islam, seharusnya,batasan negara itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Menurutku negara itu sesimpel alamat rumah. Visa, entry permit, paspor, dan berbagai macam tetek bengek keimigrasian yang aku sendiri lebih memilih untuk koprol mundur daripada ngurusin yang begituan karena agak ribet itu cukuplah dimaknai sesimpel : ya namanya masuk rumah orang itu musti ijin. namanya masuk rumah orang itu musti jelas kita siapa dan keperluannya apa? Kalau ada orang yang bagaikan turun dari langit saking enggak jelas asal muasalnya masuk ke rumah kita dengan tiba-tiba, dan tanpa permisi, kita pasti langsung ambil sapu ijuk dan pasang kuda2 siap bertarung kaaan?*DUILEEEEEE!!!*
Adalah hal yang wajar, fitrah kalo bahasa kerennya mah, ketika manusia ingin hidup berkelompok dengan sesamanya (baca : punya kemiripan dalam banyak hal). Tapi ketika harus berbaur pun, orang Islam itu akan mudah sekali merasa seperti saudara. Hanya dengan saling memandang jilbab yang dipake, bahkan ketika kita sama2 tidak mengerti bahasa masing2 pun, cukuplah salam untuk saling bertegur sapa. sholat untuk merasakan esensi rapatkan-barisan,dan lain-lain.
Kalau sabda nabi, orang muslim itu bagaikan satu tubuh. satu bagian terluka, yang lainpun akan merasakan.
Itulah kenapa dengan mudah aku mengabaikan orang yang suka berkata nyinyir "ngapain ngurusin Palestina. itu bukan negara kita. di negara kita giliran tkw disiksa orang pada diem aja".
Menurutku fokus ini hanyalah sesimpel spesialisasi dokter. Ada orang yang suka dengan urusan konflik antar negara macam ini, sehingga dia memilih untuk vokal di bidang ini. Ada juga orang2 yang suka hal-hal lain sehingga mereka memilih untuk vokal di bidang lain. Sesimpel itu.Kalau satu orang pingin ngurusin semuanya, yang ada masalah-masalah tersebut tidak jadi terselesaikan.
Dan menurutku, ketika kita menerima diri kita menjadi seorang Muslim, hilang sudah batasan-batasan negara. Bukan berarti harus menghilangkan sistem negara seperti yang sekarang ini ada. Sejujurnya, daripada menghabiskan energi untuk berjuang menghilangkan negara, lebih baik berjuang untuk menanamkan sebenar-benarnya ajaran Islam pada umat-umatnya. Menegakkan kalimat tauhid dan mengembalikan kemuliaan agama kita. Perjuangannya dikembalikan pada hal yang lebih esensial dan efeknya lebih luas daripada sekedar : menghilangkan negara*kumaha carana coba?*
Karena bagi orang Islam, seharusnya,batasan negara itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Menurutku negara itu sesimpel alamat rumah. Visa, entry permit, paspor, dan berbagai macam tetek bengek keimigrasian yang aku sendiri lebih memilih untuk koprol mundur daripada ngurusin yang begituan karena agak ribet itu cukuplah dimaknai sesimpel : ya namanya masuk rumah orang itu musti ijin. namanya masuk rumah orang itu musti jelas kita siapa dan keperluannya apa? Kalau ada orang yang bagaikan turun dari langit saking enggak jelas asal muasalnya masuk ke rumah kita dengan tiba-tiba, dan tanpa permisi, kita pasti langsung ambil sapu ijuk dan pasang kuda2 siap bertarung kaaan?*DUILEEEEEE!!!*
Adalah hal yang wajar, fitrah kalo bahasa kerennya mah, ketika manusia ingin hidup berkelompok dengan sesamanya (baca : punya kemiripan dalam banyak hal). Tapi ketika harus berbaur pun, orang Islam itu akan mudah sekali merasa seperti saudara. Hanya dengan saling memandang jilbab yang dipake, bahkan ketika kita sama2 tidak mengerti bahasa masing2 pun, cukuplah salam untuk saling bertegur sapa. sholat untuk merasakan esensi rapatkan-barisan,dan lain-lain.
Intinya, Perjuangan kita atas hak
saudara-saudara kita sesama muslim dan sesama manusia di sana tidak sendirian.
Maka
dari itu, bersemangatlah.
Palestine, tomorrow will be free.. Insha Allah. :)
Rabu, 22 Februari 2012
Masuk Palestina : buah pemikiran #1
Sebagemana telah saya paparkan sebelumnya, saya sedang berusaha masuk Palestina tahun ini. Subhanallah yaa?*dg nada syahrini*, bahkan baru dalam proses usaha menuju ke sananya saja sudah menemukan banyak sekali hikmah dan pemikiran.
Saya mau menuliskan semua hikmah dan pemikiran itu meskipun saya belum nyampe Palestina. Karena menurut saya berharganya semua hikmah dan pemikiran itu tidak diukur dari keberhasilan saya untuk masuk Palestina. Saya pingin menghargai proses. Kalimat klise yang pingin saya hilangkan kekliseannya. Karena mendaki gunung itu emang berat dan ngos2an*secara sepihak menghancurkan unsur romantisme peribahasa*, tapi pemandangannya kan bagus... Ya nggak pemirsaaaah?*kedip2*
Semua hikmah dan pemikiran itu saya dapat dari semua kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kalau kita masuk Palestina. Niat masuk Palestina itu benar2 nggak bisa bikin kita membusungkan dada sambil mentato jidat dengan tulisan "gue mau gahoool ke luar negeri". Palestina bukan Perancis, Thailand, Korea, ataupun Uganda teman..Palestina lebih dari sekedar itu*tatapan penuh rindu*. Memaknai Palestina, berarti memaknai sebuah perjalanan penuh prinsip dan kemungkinan-kemungkinan extraordinary.
Ini adalah pemikiran dari kemungkinan terburuk yang pertama.
#1 proses mengapply visa
Sulit sekali bagi orang muslim untuk mendapatkan visa masuk ke Palestina. Karena apa sodara2? Yak! Karena untuk masuk wilayah Palestina, visa yang harus dipakai adalah visa Israel. Pernah tahu ada orang Islam yang ikutan paket umroh-Palestina? Biasanya penyelenggara Tour seperti itu bekerjasama dengan pihak travel dari Israel. jadi mereka tinggal kayang, tau2 visa usah di tangan..aku pergi nggak pake Tour. Jadi harus cari2 Link yang bisa bantuin mengadali proses imigrasi ini order to get the visa. Pertama kali tahu kalau mau masuk Palestina visanya harus visa Israel aku memasang tampang WHAT*capslock*??!!!! Dan aku sebenar-benarnya teriak HAAAAHHHH?!!!!
Pikiranku berkelana ke usaha-usaha yang selama ini dilakukan untuk menjembatani konflik Israel-Palestina. banyak orang di dunia ini percaya kalau sebaik-baik cara adalah yang tidak menumpahkan darah manusia. Make peace not war. Untuk itulah berbagai perundingan damai selama ini diadakan.
Buatku perundingan damai semacam itu adalah omong kosong. Call me nggak populis, Call me nggak humanis. Buatku, tidak ada perundingan damai selama derajat kedua negara itu belum disamaratakan. Maksudku, bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan sebuah perundingan yang adil dan tidak berat sebelah di saat untuk urusan seremeh visa pun Pemerintah Palestina tidak diberi kedaulatannya? Realita berat sebelah itu selama ini sudah banyak buktinya. Berkali-kali Israel melanggar perjanjian damai dan apa yang bisa dilakukan oleh dunia? Kebanyakan dari mereka hanya mengutuk atau bahkan diam. Tidak ada sanksi yang tegas untuk pelanggaran Israel.
Affabile,temanku yang anak HI pernah bilang : selama ini two state solution memang sudah terbukti gagal dalam menciptakan perdamaian di Palestina. Solusi yang paling memungkinkan sebenarnya adalah one state solution. Dilema pasti muncul kalau kita mengajukan solusi one state(satu negara). Negara mana yang berhak menempati tanah Palestina yang sekarang? Apakah Palestina? Ataukah Israel.
Teman pasti sudah bisa menduga kalau aku akan menjawab Palestina. Dugaan yang tepat. Aku menjawab "Palestina" bukan atas dasar emosi semata. Aku sudah baca lebih dari 3 buku tentang konflik Israel-Palestina, termasuk tentang zionisme dan riwayat Palestina, dan aku menjawabnya berdasarkan pengetahuanku. Secara sepihak aku memberi diriku sendiri semacam "wewenang ilmiah" untuk berbicara masalah ini. Hahahaha.
Kalau kita baca riwayat tanah Palestina (yang ini berarti kamu harus baca juga riwayat nabi-nabi mulai dari jauh sebelum nabi Muhammad dilahirkan), dan mencoba memutuskan siapa bangsa atau agama yang lebih berhak untuk menempati tanah Palestina yang sekarang ini, serta merta kita akan mencopot jidat karena bingung. Dari dulu Palestina itu berkali-kali ganti penguasa. Kebanyakan penguasa itu menduduki Palestina dengan dalih yang sama : bangsa atau agamanya lebih berhak atas tanah Palestina daripada siapapun juga. Itulah kenapa biasanya penakukan palestina berujung pada pembantaian yang sangat mengerikan. Orang2 yang tidak seagama dibunuhi tanpa rasa belas kasihan. Namun ada beberapa penguasa yang menguasai Palestina untuk kemudian memberikan kehidupan yang damai bagi seluruh bangsa atau agama yang tinggal di situ. Misalnya khalifah Umar bin Khattab dan penguasa terakhir sebelum Inggris dan Israel masuk : dinasti Utsmani. Orang2 Palestina yang sekarang mendiami palestina adalah keturunan dinasti Utsmani. Mereka adalah keturunan orang2 yang pada masa kekuasaannya, berhasil membawa perdamaian bagi seluruh penduduk Palestina, tak peduli apa agamanya. Itulah kenapa menurutku orang2 Palestina lebih berhak atas tanah Palestina daripada orang Israel.
Teman tahu asal usulnya Yahudi bisa migrasi bedol-desa dari negara2 asalnya masing2 ke tanah Palestina? Itu adalah kerjaannya orang2 zionis. Zionisme adalah sebuah paham yang lebih memandang Yahudi sebagai sebuah bangsa dan bukannya agama. Penciptanya adalah seorang yahudi bernama theodore hertzl kalo g salah. Kalau mau tahu asal-usul Yahudi dan betapa sebenarnya mereka itu dulunya adalah kumpulan orang2 yang taat pada Allah, silakan baca tafsir Qs AL-baqarah ayat 80 ke atas.
Zionis percaya kalau harus ada tanah air untuk seluruh orang Yahudi di dunia ini. Awalnya mereka pilih uganda*waktu baca ini di bukunya harun Yahya gue ngakak. UGANDA? Hyuuuk mari.. Hahahahaha :p*, tapi setelah melihat latar belakang historis, akhirnya mereka pilih Palestina. Landasan historis yang paling kuat adalah, dahulu di tempat yang sekarang bernama Yerusalem, ada sebuah bangunan yang menjadi simbol kejayaan orang Yahudi. Bangunan itu sama orang yahudi sekarang disebut : kuil Sulaiman yang dibangun oleh nabi Sulaiman pada masa keemasan pemerintahannya. Sekarang kuil Sulaiman itu menyisakan apa yang disebut sebagai tembok ratapan. Dan itulah kenapa Zionis nafsu banget menghancurkan masjidil aqsha. Karena masjidil aqsha berdiri di atas lahan yang akan mereka gunakan untuk membangun kembali kuil Sulaiman. Yaaaaah, bisa dibilang pembebasan lahan mereka terhambat oleh protes orang muslim seeeedunia begitu mereka berani dekat2 sedikit saja ke masjidil aqsha.
Kembali ke paham zionisme. Awalnya orang Yahudi sendiri menolak paham itu. Orang gila mana gitu lho yang mau2nya ikutan transmigrasi bedol desa di saat mereka sudah hidup aman dan damai di negaranya masing2. Akhirnya zionisme bekerja sama dengan orang2 antisemit untuk meneror kehidupan orang Yahudi dimanapun mereka berada. Sehingga muncullah rasa tidak aman dan Yahudi pada akhirnya menerima paham zionisme dan dimulailah proses bedol desa pintu di tahun 1940an.
Kepercayaanku akan negara Palestina sebagai solusi one state solution berdasarkan pada dua hal tersebut : 1. orang Palestina bagai turunan orang2 yang membawa kedamaian di sana bagi siapapun dan mereka berhasil meneruskan kedamaian itu meskipun pendiri dinasti utsmaninya sendiri sudah tiada.
2. Yang bikin orang Yahudi sekarang berasa ditindas itu adalah kerjaan sesama orang Yahudi sendiri. Salahkan mereka yang memprakarsai program bedol desa dengan menghalalkan segala cara itu. Ketika mereka sudah merasa terusir dari negara asalnya karena ulah sebagian dari mereka sendiri pada awalnya, terus kenapa sekarang bertingkah super arogan di tanah milik orang lain yang tadinya sudah hidup aman dan damai?
Doanya ya teman, biar aku bisa ke Palestina beneran.. Semoga tahun ini. :)
Saya mau menuliskan semua hikmah dan pemikiran itu meskipun saya belum nyampe Palestina. Karena menurut saya berharganya semua hikmah dan pemikiran itu tidak diukur dari keberhasilan saya untuk masuk Palestina. Saya pingin menghargai proses. Kalimat klise yang pingin saya hilangkan kekliseannya. Karena mendaki gunung itu emang berat dan ngos2an*secara sepihak menghancurkan unsur romantisme peribahasa*, tapi pemandangannya kan bagus... Ya nggak pemirsaaaah?*kedip2*
Semua hikmah dan pemikiran itu saya dapat dari semua kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kalau kita masuk Palestina. Niat masuk Palestina itu benar2 nggak bisa bikin kita membusungkan dada sambil mentato jidat dengan tulisan "gue mau gahoool ke luar negeri". Palestina bukan Perancis, Thailand, Korea, ataupun Uganda teman..Palestina lebih dari sekedar itu*tatapan penuh rindu*. Memaknai Palestina, berarti memaknai sebuah perjalanan penuh prinsip dan kemungkinan-kemungkinan extraordinary.
Ini adalah pemikiran dari kemungkinan terburuk yang pertama.
#1 proses mengapply visa
Sulit sekali bagi orang muslim untuk mendapatkan visa masuk ke Palestina. Karena apa sodara2? Yak! Karena untuk masuk wilayah Palestina, visa yang harus dipakai adalah visa Israel. Pernah tahu ada orang Islam yang ikutan paket umroh-Palestina? Biasanya penyelenggara Tour seperti itu bekerjasama dengan pihak travel dari Israel. jadi mereka tinggal kayang, tau2 visa usah di tangan..aku pergi nggak pake Tour. Jadi harus cari2 Link yang bisa bantuin mengadali proses imigrasi ini order to get the visa. Pertama kali tahu kalau mau masuk Palestina visanya harus visa Israel aku memasang tampang WHAT*capslock*??!!!! Dan aku sebenar-benarnya teriak HAAAAHHHH?!!!!
Pikiranku berkelana ke usaha-usaha yang selama ini dilakukan untuk menjembatani konflik Israel-Palestina. banyak orang di dunia ini percaya kalau sebaik-baik cara adalah yang tidak menumpahkan darah manusia. Make peace not war. Untuk itulah berbagai perundingan damai selama ini diadakan.
Buatku perundingan damai semacam itu adalah omong kosong. Call me nggak populis, Call me nggak humanis. Buatku, tidak ada perundingan damai selama derajat kedua negara itu belum disamaratakan. Maksudku, bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan sebuah perundingan yang adil dan tidak berat sebelah di saat untuk urusan seremeh visa pun Pemerintah Palestina tidak diberi kedaulatannya? Realita berat sebelah itu selama ini sudah banyak buktinya. Berkali-kali Israel melanggar perjanjian damai dan apa yang bisa dilakukan oleh dunia? Kebanyakan dari mereka hanya mengutuk atau bahkan diam. Tidak ada sanksi yang tegas untuk pelanggaran Israel.
Affabile,temanku yang anak HI pernah bilang : selama ini two state solution memang sudah terbukti gagal dalam menciptakan perdamaian di Palestina. Solusi yang paling memungkinkan sebenarnya adalah one state solution. Dilema pasti muncul kalau kita mengajukan solusi one state(satu negara). Negara mana yang berhak menempati tanah Palestina yang sekarang? Apakah Palestina? Ataukah Israel.
Teman pasti sudah bisa menduga kalau aku akan menjawab Palestina. Dugaan yang tepat. Aku menjawab "Palestina" bukan atas dasar emosi semata. Aku sudah baca lebih dari 3 buku tentang konflik Israel-Palestina, termasuk tentang zionisme dan riwayat Palestina, dan aku menjawabnya berdasarkan pengetahuanku. Secara sepihak aku memberi diriku sendiri semacam "wewenang ilmiah" untuk berbicara masalah ini. Hahahaha.
Kalau kita baca riwayat tanah Palestina (yang ini berarti kamu harus baca juga riwayat nabi-nabi mulai dari jauh sebelum nabi Muhammad dilahirkan), dan mencoba memutuskan siapa bangsa atau agama yang lebih berhak untuk menempati tanah Palestina yang sekarang ini, serta merta kita akan mencopot jidat karena bingung. Dari dulu Palestina itu berkali-kali ganti penguasa. Kebanyakan penguasa itu menduduki Palestina dengan dalih yang sama : bangsa atau agamanya lebih berhak atas tanah Palestina daripada siapapun juga. Itulah kenapa biasanya penakukan palestina berujung pada pembantaian yang sangat mengerikan. Orang2 yang tidak seagama dibunuhi tanpa rasa belas kasihan. Namun ada beberapa penguasa yang menguasai Palestina untuk kemudian memberikan kehidupan yang damai bagi seluruh bangsa atau agama yang tinggal di situ. Misalnya khalifah Umar bin Khattab dan penguasa terakhir sebelum Inggris dan Israel masuk : dinasti Utsmani. Orang2 Palestina yang sekarang mendiami palestina adalah keturunan dinasti Utsmani. Mereka adalah keturunan orang2 yang pada masa kekuasaannya, berhasil membawa perdamaian bagi seluruh penduduk Palestina, tak peduli apa agamanya. Itulah kenapa menurutku orang2 Palestina lebih berhak atas tanah Palestina daripada orang Israel.
Teman tahu asal usulnya Yahudi bisa migrasi bedol-desa dari negara2 asalnya masing2 ke tanah Palestina? Itu adalah kerjaannya orang2 zionis. Zionisme adalah sebuah paham yang lebih memandang Yahudi sebagai sebuah bangsa dan bukannya agama. Penciptanya adalah seorang yahudi bernama theodore hertzl kalo g salah. Kalau mau tahu asal-usul Yahudi dan betapa sebenarnya mereka itu dulunya adalah kumpulan orang2 yang taat pada Allah, silakan baca tafsir Qs AL-baqarah ayat 80 ke atas.
Zionis percaya kalau harus ada tanah air untuk seluruh orang Yahudi di dunia ini. Awalnya mereka pilih uganda*waktu baca ini di bukunya harun Yahya gue ngakak. UGANDA? Hyuuuk mari.. Hahahahaha :p*, tapi setelah melihat latar belakang historis, akhirnya mereka pilih Palestina. Landasan historis yang paling kuat adalah, dahulu di tempat yang sekarang bernama Yerusalem, ada sebuah bangunan yang menjadi simbol kejayaan orang Yahudi. Bangunan itu sama orang yahudi sekarang disebut : kuil Sulaiman yang dibangun oleh nabi Sulaiman pada masa keemasan pemerintahannya. Sekarang kuil Sulaiman itu menyisakan apa yang disebut sebagai tembok ratapan. Dan itulah kenapa Zionis nafsu banget menghancurkan masjidil aqsha. Karena masjidil aqsha berdiri di atas lahan yang akan mereka gunakan untuk membangun kembali kuil Sulaiman. Yaaaaah, bisa dibilang pembebasan lahan mereka terhambat oleh protes orang muslim seeeedunia begitu mereka berani dekat2 sedikit saja ke masjidil aqsha.
Kembali ke paham zionisme. Awalnya orang Yahudi sendiri menolak paham itu. Orang gila mana gitu lho yang mau2nya ikutan transmigrasi bedol desa di saat mereka sudah hidup aman dan damai di negaranya masing2. Akhirnya zionisme bekerja sama dengan orang2 antisemit untuk meneror kehidupan orang Yahudi dimanapun mereka berada. Sehingga muncullah rasa tidak aman dan Yahudi pada akhirnya menerima paham zionisme dan dimulailah proses bedol desa pintu di tahun 1940an.
Kepercayaanku akan negara Palestina sebagai solusi one state solution berdasarkan pada dua hal tersebut : 1. orang Palestina bagai turunan orang2 yang membawa kedamaian di sana bagi siapapun dan mereka berhasil meneruskan kedamaian itu meskipun pendiri dinasti utsmaninya sendiri sudah tiada.
2. Yang bikin orang Yahudi sekarang berasa ditindas itu adalah kerjaan sesama orang Yahudi sendiri. Salahkan mereka yang memprakarsai program bedol desa dengan menghalalkan segala cara itu. Ketika mereka sudah merasa terusir dari negara asalnya karena ulah sebagian dari mereka sendiri pada awalnya, terus kenapa sekarang bertingkah super arogan di tanah milik orang lain yang tadinya sudah hidup aman dan damai?
Doanya ya teman, biar aku bisa ke Palestina beneran.. Semoga tahun ini. :)
Selasa, 21 Februari 2012
Masuk Palestina?
Saya berencana masuk palestina tahun ini.
Masuk ke Jerussalem.
Ada 2 opsi yang terbentang lebar saat ini :
1. Ikut GMJ (global march to jerussalem)
Ini adalah semacam gerakan kampanye pembebasan Yerussalem dan Palestina dari tangan zionisme. Orang dari seluruh dunia akan berkumpul di Jordan atau negara2 lain yang berbatasan langsung dengan Palestina dan dari sana mereka akan melakukan konvoy ke perbatasan negara tersebut dengan Palestina(Israel).
Peserta GMJ nantinya akan berusaha masuk ke jerussalem jika memungkinkan.
Aku daftar GMJ ini mewakili individu alias tidak mewakili siapa-siapa. hehehe.
Bismillah aja. Meskipun waktu baru baca formulir pendaftarannya aja aku sudah nyengir linglung. Ada pertanyaan : sudah pernah ke daerah konflik?
2. Backpackeran
Ini adalah rencana awalku sebelum aku tahu ada GMJ.
Rutenya adalah Mesir-Yerussalem-Jordan(apabila memungkinkan)-Jeddah-Makkah-Madinah
Dengan adanya 2 kemungkinan itu aku merasa nothing to loose aja. Nggak lulus seleksi GMJ ya masih ada rencana ke 2.
5 hari lagi aku akan memasukkan paspor untuk mengurus visa Israel. Insya Allah sudah ada link-nya, jadi keberhasilanku masuk ke Palestina ditentukan oleh kondisi lapangan besok. Karena akhir-akhir ini kondisi Palestina terutama Jerussalem agak memanas lagi.
Sekarang aku ngerti, urusan sperti ini tu nggak bisa cuma dibackup dengan semangat doang. Sering kan kita dengar cita-cita "gue mau ke palestina!" "gue mau jadi dokter ke sana!" whenever ada bombardir Israel ke Palestina.
Ketika kemungkinan untuk bisa masuk ke sana itu sudah di depan mata, muncul lagi berbagai kemungkinan di lapangan yang menggoyahkan keyakinan.
Bahkan ketika rencana ke Palestina itu "cuma sekedar" backpackeran. Tidak secara frontal membawa misi tertentu. Banyak banget kenyataan-kenyataan lapangan yang membuat takut sejujurnya. Bahkan sempat merasa hopeless.
Seperti misalnya, dengan identitas keislaman yang sudah terlihat jelas (baca:jilbab), aku sudah harus siap mental untuk ngadepin interogasi tentara Israel di perbatasan. Aku sudah mengumpulkan cerita dari orang2 yang sudah pernah masuk Israel. Begitu ada unsur identitas keislaman, mau itu nama, wajah arab, atau yang lain, siap-siap aja di interogasi tentara Israel. Lama interogasinya tergantung keberuntungan. Ada yang sampe 3 jam. Ada yang demikian intimidatifnya cara interogasinya. Kalau masalah arogansi mah emang itu sudah akan jadi makanan kita tiap berhadapan dengan tentara Israel. Kalau "selamat", kemungkinan terburuknya adalah aku "cuma" nggak boleh masuk Palestina, tapi kemungkinan yang lebih buruk lagi sebenarnya ada : paspor disita.
Kemungkinan yang ada tu semuanya berasa meruntuhkan mental. Padahal ini belum di lapangan. Masih di rumah dengan segala tetek bengek persiapan keimigrasian.
Bismillah aja..
Bismillah..
Tekad ini sudah bulat. Tahun ini aku HARUS COBA masuk Palestina. seenggaknya mencoba.
Masuk ke Jerussalem.
Ada 2 opsi yang terbentang lebar saat ini :
1. Ikut GMJ (global march to jerussalem)
Ini adalah semacam gerakan kampanye pembebasan Yerussalem dan Palestina dari tangan zionisme. Orang dari seluruh dunia akan berkumpul di Jordan atau negara2 lain yang berbatasan langsung dengan Palestina dan dari sana mereka akan melakukan konvoy ke perbatasan negara tersebut dengan Palestina(Israel).
Peserta GMJ nantinya akan berusaha masuk ke jerussalem jika memungkinkan.
Aku daftar GMJ ini mewakili individu alias tidak mewakili siapa-siapa. hehehe.
Bismillah aja. Meskipun waktu baru baca formulir pendaftarannya aja aku sudah nyengir linglung. Ada pertanyaan : sudah pernah ke daerah konflik?
2. Backpackeran
Ini adalah rencana awalku sebelum aku tahu ada GMJ.
Rutenya adalah Mesir-Yerussalem-Jordan(apabila memungkinkan)-Jeddah-Makkah-Madinah
Dengan adanya 2 kemungkinan itu aku merasa nothing to loose aja. Nggak lulus seleksi GMJ ya masih ada rencana ke 2.
5 hari lagi aku akan memasukkan paspor untuk mengurus visa Israel. Insya Allah sudah ada link-nya, jadi keberhasilanku masuk ke Palestina ditentukan oleh kondisi lapangan besok. Karena akhir-akhir ini kondisi Palestina terutama Jerussalem agak memanas lagi.
Sekarang aku ngerti, urusan sperti ini tu nggak bisa cuma dibackup dengan semangat doang. Sering kan kita dengar cita-cita "gue mau ke palestina!" "gue mau jadi dokter ke sana!" whenever ada bombardir Israel ke Palestina.
Ketika kemungkinan untuk bisa masuk ke sana itu sudah di depan mata, muncul lagi berbagai kemungkinan di lapangan yang menggoyahkan keyakinan.
Bahkan ketika rencana ke Palestina itu "cuma sekedar" backpackeran. Tidak secara frontal membawa misi tertentu. Banyak banget kenyataan-kenyataan lapangan yang membuat takut sejujurnya. Bahkan sempat merasa hopeless.
Seperti misalnya, dengan identitas keislaman yang sudah terlihat jelas (baca:jilbab), aku sudah harus siap mental untuk ngadepin interogasi tentara Israel di perbatasan. Aku sudah mengumpulkan cerita dari orang2 yang sudah pernah masuk Israel. Begitu ada unsur identitas keislaman, mau itu nama, wajah arab, atau yang lain, siap-siap aja di interogasi tentara Israel. Lama interogasinya tergantung keberuntungan. Ada yang sampe 3 jam. Ada yang demikian intimidatifnya cara interogasinya. Kalau masalah arogansi mah emang itu sudah akan jadi makanan kita tiap berhadapan dengan tentara Israel. Kalau "selamat", kemungkinan terburuknya adalah aku "cuma" nggak boleh masuk Palestina, tapi kemungkinan yang lebih buruk lagi sebenarnya ada : paspor disita.
Kemungkinan yang ada tu semuanya berasa meruntuhkan mental. Padahal ini belum di lapangan. Masih di rumah dengan segala tetek bengek persiapan keimigrasian.
Bismillah aja..
Bismillah..
Tekad ini sudah bulat. Tahun ini aku HARUS COBA masuk Palestina. seenggaknya mencoba.
Selasa, 14 Februari 2012
Tentang liqo' : oh jadi begitu?
Terkuak sudah kenapa liqo (ini
bahasa “gahol”nya mentoring) selama ini terasa kurang bermakna signifikan.. Usut
punya usut, ternyata liqo emang diadakan untuk menautkan hati, bukan sebagai
forum ilmu. Kalau mau menimba ilmu dengan lebih signifikan, emang harus cari di
luar. Ikut pengajian di masjid AsySyakir*masjid deket di Jatinangor yang sangat
aktif dan produktif* misalnya, atau baca buku. Setidaknya begitulah pengakuan
teteh mentorku.
Buatku
ini ironis dan sangat disayangkan. Dalam sebuah liqo, aku berkumpul dengan
orang-orang yang sama-sama punya semangat yang tinggi untuk mempelajari islam,
kita juga sama-sama punya semangat keislaman yang bagus : mau terlibat aktif
dalam dakwah, dan terkhusus bisa jadi dalam sebuah kelompok liqo’ isinya
orang-orang yg pintar bahkan cerdas. Tapi kemudian sekumpulan orang yang
potensial ini hanya berkumpul untuk menautkan hati? Memang tetap ada
bumbu-bumbu materi, tetapi sejujurnya, materi-materi itu sangat tidak
signifikan untuk bisa memenuhi kehausan seseorang akan ilmu. Untuk bisa menjadi
rujukan dari hal-hal yang kita hadapi selama di dunia ini. Apa bedanya kumpulan
orang yang ngakunya “aktivis dakwah” itu sama kumpulan ibu-ibu dharmawanita
yang tergabung dalam pengajian “JAMAAH EI JAMAAH, ALHAMDULILLAH” coba?
Kekuatan
lain dari liqo adalah rutinitasnya. “Acara” ini tu rutin diadakan. Paling
enggak seminggu sekali. Kebayang kan kalau forum ini bisa jadi forum ilmu yang
signifikan?
Karena
antara menautkan hati dan berusaha memberi materi yang bagus dan bernilai itu
bukan sesuatu yang kontradiktif. Seakan-akan ketika kita fokus untuk menjadikan
liqo sebagai sarana menuntut ilmu, kita akan kehilangan momentum untuk
menciptakan “kedekatan hati” itu.
Saya sudah
pernah membuktikan sendiri bagaimana usaha aktif dan serius untuk menuntut ilmu
tidak mengganggu jalannya proses bonding kita dengan orang lain. 2 kali malah
dalam kurun waktu 2 tahun ini. Melibatkan 2 kelompok orang yang berbeda. In the
end, tetaplah yang menautkan hati-hati saya dengan 2 kelompok orang tersebut
adalah Allah. Tapi ini justeru semakin memperkuat pendapat saya bahwa antara
tautan-hati dengan forum ilmu sama sekali nggak kontradiktif. Kita berkumpul di
situ di jalan Allah, untuk mempelajari ayat-ayatnya. Kita di situ berproses,
bersusah payah bersama. Kita seneng2 bersama tiap habis forum karena otak sudah
berasa diisi ilmu-ilmu baru. Aku rasa
benar-benar nggak ada logikanya proses menuntut ilmu bersama tidak bisa
disandingkan dengan pembentukan ikatan hati yang bagus. Ada mekanisme menuju ke
2 tujuan tersebut yang bisa dijalankan
secara simultan. Ada keridhoan Allah yang sama2 bisa diraih..
Menurutku
penggunaan liqo dengan tujuan yang kurang hip kayak gini tu mengkerdilkan
potensi si adik-adik mentor. Mereka pintar, mereka cerdas, dan mereka sudah
sangat siap untuk belajar. Dan, hey, adik-adik mentor kita pastinya bukan tanpa
“pengorbanan” untuk meluangkan waktunya seminggu sekali datang liqo atau
mentoring. Adik mentorku pernah, meskipun sakit, gejala DB, dia masih aja
dateng mentoring. Dengan potensi dan usaha dia yang seperti itu untuk datang, masa
kita sebagai mentor terus nggak mengimbanginya dengan ngasih materi yang
bermakna disamping berusaha menciptakan ikatan yang bagus dengan mereka?
Langganan:
Entri (Atom)