Usia semakin
tua. Bukan Cuma diri sendiri yang harus menyesuaikan, tapi juga orang-orang di
sekitar.
Entah ya, semacam ada loncatan
kehidupan ketika kita sudah melewati usia 20 tahun. Kalau Cyntia bilang,
masa-masa antara usia 20-30 itu akan terasa sangat singkat. Ya, memang begitu
adanya kalau aku merasakan.
Tiba-tiba umurku sudah mau 21.
Dan yang dituntut untuk menyesuaikan peran sebagai orang dewasa yang sudah mau
“dilepas” oleh orang tuanya bukan Cuma aku. Tapi juga orang-orang di sekitarku.
Yang peduli bukan Cuma aku tapi juga orang di sekitarku.
Dari dulu aku punya kebiasaan
ngaji sama ibu. Belajar tafsir. Kebanyakan, ibu menyampaikan apa yang sudah
beliau dapat, terus aku mendengarkan sambil tidur-tiduran. Hahaha, itulah
enaknya pengajian sama ibu sendiri.. bisa sambil.. tidur-tiduran santé kayak di
pante. Akhir-akhir ini tiap ngaji, ayat-ayat tentang keluarga keluar semua.
Ditafsirkan dan disinkronkan dengan realita, berikut dasar-dasar ilmunya
menurut ulama.
Jijik kah? Sejujurnya aku tidak
menemukan faedah dari menjadi orang yang (pura2)jijik/(pura2)tidak-peduli pada hal
semacam ini. Sebagaimana aku tidak menemukan faedah dari menjadi orang yang
memaknai urusan berkeluarga seperti ini dengan satu kata : GALAU.
Awalnya emang terasa aneh sampe
rasanya aku pingin membungkus diri dengan daun pisang.. jadi pepes*gak
nyambung*. Tapi ibukku tampaknya memang sudah berpengalaman. Jadi beliau
bertahap memperkenalkan aku sama urusan semacam ini.
Belajar tentang urusan keluarga
seperti ini emang paling YAHUY kalau dari Qurannya langsung. Dikaji berdasarkan
tafsir dan ilmu ulama. Urusan rumah tangga jadi terasa SANGAT JELAS. Rumah
tangga tidak digambarkan dengan romantisisme antara sepasang pria dan wanita
belaka. Cinta yang ada dalam rumah tangga itu seakan-akan menjadi sesuatu yang
bisa difikirkan, rasional. Bukan urusan menye-menye belaka. Dan jadi keliatan
banget bedanya sistem kerumahtanggaan islam dengan yang lain. Bagaimana wanita
itu sangat dimuliakan. KELIATAN BANGET.
I mean like.. kalau misalnya dibilang peran wanita adalah sebagai ibu
dan istri tapi tidak menutup kemungkinan untuk berperan di tempat-tempat lain
mah.. YAHOO NEWS DOT KOM juga sering memaparkan hal yang sama. Dengan belajar
langsung dari Quran, kita tu akan menemukan sampe ke detil-detilnya. Hal-hal
yang membuat kita bangga karena agama kita emang sudah paket lengkap dan
membuat kita selalu ingin menjalankan keluarga dengan berdasarkan pada quran
dan sunnah, bukan Cuma buku-buku roman islami belaka.
Bahkan dari pengkajian itu aku
dapet banyak banget “pencerahan”. Banyak hal-hal yang selama ini kupahami
dengan berdasarkan common-sense dari orang islam kebanyakan(yang kuanggap sudah
benar)ternyata bisa dibilang.. kurang tepat*kurangnya banyak tapi,hehehe* Misalnya
urusan mendidik anak, menyusui, mahar, dan pelayanan terhadap suami. Kalau kata
ibukku, banyak dari masyarakat kita yang selama ini berumah tangga dengan
pemahaman yang ala kadarnya. NEKAT kalau kata ibukku mah..
Dan ibu emang sebaik-baiknya madrasah.
Ibu adalah orang yang sudah sangat berpengalaman dengan rumah tangga. Beliau
bukan bujangan, bukan pula pengantin baru yang masih on-on-nya. Beliau adalah
orang yang sudah menghadapi asam garam dan realitas hidup dalam berumah tangga
selama berpuluh-puluh tahun. Membahas urusan keluarga dengan ibu berarti kita
akan berada jauuuuuuuh sekali dari memaknai urusan ini dengan kata yang bahkan
akupun benci ngetiknya : GALAU. Menikah dan punya anak adalah urusan yang
serius dan rasional. Saking seriusnya, dan saking jauhnya (ternyata) urusan
menikah dari kata galau, aku kadang2 jiper sendiri kalo denger penjelasannya
dari ibu. Hahahaha.
Misalnya waktu itu ibu
menjelaskan bagaimanakah yang dimaksud dengan cinta istri kepada suaminya?
Menurut syariat, seorang istri tu harus melayani suaminya dengan penuh
kecintaan dan penerimaan terhadap apa adanya suaminya(kalo bahasanya KANGEN
BAND mah : kucintai dirimuuuu.. apa adanyaaaaaa….*dengan iringan musik
ketipung*). Bukan Islam namanya kalau syariatnya absurd. Ulama menjelaskan yang
dimaksud dengan melayani dengan kecintaan apa adanya itu seperti : istri itu
harus mau menciumi suaminya biarpun suaminya dalam keadaan luka bernanah-nanah.
Contoh itu emang terkesan “ekstrim”. Tapi saya yakin pembaca cukup cerdas untuk
menangkap makna dari kalimatnya, bukan menelan kalimatnya bulat-bulat.
Terkadang kajian ini nyasar
kemana-mana. Waktu mbahas soal kemungkinan suami untuk beristri lebih dari satu
dan sebagainya, aku sama ibukku malah jadi ngobrol asyik tentang RESOLUSI-25ku!
Tahu RESOLUSI-25 pemirsa? Itu resolusiku di umur 25 : no more sneakers (kecuali
kalo lagi tugas di lapangan), no more backpack(kecuali kalo lagi tugas di
lapangan). Say hello to boots atau gladiator shoes yang semuanya harus memiliki
HAK! Hak sepatu pemirsah, bukan hak asasi. Atau flat bilamana saya dalam
keadaan santai. Hehehe. Dan tentu saja..
“tas wanita”. Pokoknya tema penampilanku di usia tersebut adalah.. imut
dan elegan. Kayak bintang korea
gituuu*ngoooook!*. Kalo sekarang kan imut*hueeekk* dan MENCRANG. Ya kurang
lebihnya kayak preman kalo sekarang mah..Hahahaha. HIDUP RESOLUSI 25!!!
Nanti kapan-kapan aku post di
blog hasil kajianku sama ibu. Kemarin waktu kajian tentang ayat-ayat keluarga
tu aku lagi nggak mood buat nyatet. Aku ndengerin sambiiiiiiiiiiiiiil…
tidur-tiduran.. hehehe :p