Minggu, 29 Januari 2012

Terimakasih : Universe

Terimakasih saya untuk Universe
2,5 tahun bersama kalian saya merasa saaaaangat senang. Universe adalah mood-booster saya selama 2,5 tahun.
Yang paling saya kenang dari universe adalah suasananya yang penuh tawa tiap ngumpul, kekeluargaannya, dan kajian-kajiannya.
Banyolan adalah bumbu dari setiap rapat universe. Sejauh yang saya ingat, tidak ada rapat universe yang tanpa banyolan yang benar-benar berarti. Yang benar-benar bikin kita semua tertawa terbahak-bahak.
Kekeluargaannya. Lucu sebenarnya kalau ingat kekeluargaan universe. Benar-benar merasa Allah yang memberi anugerahNya. Kita sama sekali bukan tipe-tipe manusia yang suka gembar-gembor "KITA ADALAH KELUARGA" dan semacamnya.. Hubungan kita tidak dilandasi perasaan kekeluargaan yang melankolis. Entah ya.. saya merasa itu benar-benar anugerah dari Allah.
Kajian universe selalu mencerahkan. Tidak peduli selawak apapun mayoritas orang-orang di universe, kajian universe selalu membawa hasil yang signifikan. Setiap selesai kajian, bawaannya suasana hati ini jadi gembiraaa.. Berasa dapat sesuatu di otak

Terimakasih Universe.

Kemarin Banadji ngepost sesuatu di grup FB universe. Ceritanya kita habis rafting. Dan baca kalimat terakhirnya itu saya mengucap amin dengan sepenuh hati sampai nyaris menangis ..

Aslm..univeeeerse..makasii yaa untuk jalan-jalannyaa hari ini..ga boong seneng bangeeet..mudah-mudahan kt bisa rafting lagi di sungai susu di syurga nanti..:)
- Yasir Banadji, the coolest DPO of DKM Asy-Syifaa, EVER! - hahaha :))

open house DKM Asy-Syifaa 2011." rusuh" to the max.hahaha
 Bonding1+up grading : arboretum. masih malu-malu. belum pada keliatan "sesat"nya

Bonding 2 : main, macet, masak.
Bonding ke-2 : curug orog
Bonding ke-3 : BUnbin bandung, oktober 2011


 Bonding 4 : Rafting@ citarum. AMAZING!! 







Selasa, 24 Januari 2012

Terimakasih : preambule


              Kuliah di FK UNPAD program sarjana kedokteran sudah selesai. Benar-benar sudah selesai. Kemarin Senin sudah menjalani ujian terakhir di program sarjana kedokteran ini. Sebentar lagi, sidang skripsi. Sebentar lagi, mengucapkan selamat tinggal pada Jatinangor. Amiin.
                Jadi ingat dulu waktu pertama kali ke Jatinangor, rasanya jiwa ini tercabik-cabik melihat tempat antah berantah yang ternyata sudah masuk wilayah SUMEDANG (SIAPA YANG DULU NIPU GUE, BILANG KALO JATINANGOR ITU CUMA SE-LOMPATAN POCONG ATAU SE-NGESOTAN SUSTER NGESOT DARI BANDUNG? JATINANGOR ADALAH BANDUNG KATANYAA??!! SUNGGUH MENIPU! SIAPA?! SIAPA?!) dan wilayah ini saaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangat GERSANG. Hahaha.
                Bandung Sumedang, Jatinangor, adalah tempat yang tidak pernah kubayangkan akan jadi tempat kuliahku. Aku kira takdir akan membawaku jadi anak Jogja atau Jawa-Tengah tulen. Entah itu di UGM, UNS, UNDIP, atau UNSOED. Ternyata angin yang bertiup bukan angin sepoi-sepoi yang romantis, melainkan angin puting beliung super ribut yang mendamparkanku dii… SUMEDANG*histeris*. Hahaha.
                Aku rasanya sudah cukup sering cerita di blogku ini tentang bagaimana tiba-tiba UNPAD terselip begitu saja dalam keyakinanku. Hanya satu hari sebelum mengumpulkan formulir SNMPTN. Sebelumnya, determinasiku adalah UGM. Hanya dan hanya UGM. Bahkan ketika aku akhirnya harus menikmati waktu dulu di sastra prancis UGM, di Jogja, pilihan itu tidak berubah. Selama beberapa bulan setelah pengumuman SNMPTN 2007 yang menguras air mata itu*hahaha*, rasanya hati ini tercabik-cabik pisan setiap mendengar kata BANDUNG disebut. Rasa sakit hati dan antipatinya terhadap kota satu itu benar-benar dalam. Saking inginnya aku masuk FK UNPAD, Bandung. Saking siapnya aku untuk diterima. Untuk kuliah jauh dari Jogja yang berhati nyaman. Dan ternyata emang kuliahnya jadinya nggak di Bandung siih, di SUMEDANG*masih histeris*, demi apaaaa… hahaha.
                Begitulah kalau Allah sudah membolak-balikkan hati seseorang. Sampai sekarang, aku masih bersabar untuk menunggu saatnya korden itu tersingkap dan memperlihatkan, ini lho alasan signifikan Allah menempatkanmu di FK UNPAD. Membuka matamu untuk FK UNPAD saja, dan meninggalkan “masa kejayaan” bersama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Perancis(diucapkan dengan nada : PRIMAGAMA, TERDEPAN DALAM PRESTASI). Bersabar dan deg-degan.. Ini membuat hidup jadi lebih aduhaiiii. Hehehe.
Selama kuliah di FK UNPAD ini mungkin saya tidak termasuk ke dalam “jajaran dewa” (kecuali dewa alay. Dengan bangga saya mengiyakan status yg satu itu. Jarang-jarang lho ada gadis manis nan kiyut *duuuut* tapi punya selera lawak yang menyamai Tukul Arwana seperti saya. hahaha) : saya bukan cum-lauder, saya juga tidak termasuk ke dalam jajaran penguasa mahasiswa.(i mean, ada kesan di FKUP yg menyatakan kalau hidup bermakna di fkup adalah 2 hal yang seperti itu. menginspirasi dg cara yang seperti itu) Tapi sayapun menemukan banyak hal dalam perjalanan ini. Saya berusaha menjadi orang yang masa kininya lebih baik dari masa lalunya dengan cara saya sendiri, dengan gaya saya sendiri(Tentu saja dg langkah yg masih dalam tuntunan Quran dan Sunnah.hehehe). I HAVE MY OWN STYLE, THANK YOU. I’m a designer dude… Designer has her own attitude..*memasang tampang : I-wear-fake-louis-vuitton,so-what?* hahaha.
Di penghujung masa kuliah ini, ingin sekali rasanya mengepos hal-hal yang belum tersampaikan tentang kampus ini berikut derivat-derivatnya. Terutama rasa terimakasih yang tidak ada habisnya untuk semua pihak yang  telah berpartisipasi aktif dalam mewarnai kehidupan saya selama di SUMEDANG ini dengan cara yang berbeza-beza*gaya formal*. I LOVE YOU ALL, teman-temanku. I love you fk unpad SUMEDANG. 

Maturity complex


                 Usia semakin tua. Bukan Cuma diri sendiri yang harus menyesuaikan, tapi juga orang-orang di sekitar.
                Entah ya, semacam ada loncatan kehidupan ketika kita sudah melewati usia 20 tahun. Kalau Cyntia bilang, masa-masa antara usia 20-30 itu akan terasa sangat singkat. Ya, memang begitu adanya kalau aku merasakan.
                Tiba-tiba umurku sudah mau 21. Dan yang dituntut untuk menyesuaikan peran sebagai orang dewasa yang sudah mau “dilepas” oleh orang tuanya bukan Cuma aku. Tapi juga orang-orang di sekitarku. Yang peduli bukan Cuma aku tapi juga orang di sekitarku.
                Dari dulu aku punya kebiasaan ngaji sama ibu. Belajar tafsir. Kebanyakan, ibu menyampaikan apa yang sudah beliau dapat, terus aku mendengarkan sambil tidur-tiduran. Hahaha, itulah enaknya pengajian sama ibu sendiri.. bisa sambil.. tidur-tiduran santé kayak di pante. Akhir-akhir ini tiap ngaji, ayat-ayat tentang keluarga keluar semua. Ditafsirkan dan disinkronkan dengan realita, berikut dasar-dasar ilmunya menurut ulama.
                Jijik kah? Sejujurnya aku tidak menemukan faedah dari menjadi orang yang (pura2)jijik/(pura2)tidak-peduli pada hal semacam ini. Sebagaimana aku tidak menemukan faedah dari menjadi orang yang memaknai urusan berkeluarga seperti ini dengan satu kata : GALAU.
                Awalnya emang terasa aneh sampe rasanya aku pingin membungkus diri dengan daun pisang.. jadi pepes*gak nyambung*. Tapi ibukku tampaknya memang sudah berpengalaman. Jadi beliau bertahap memperkenalkan aku sama urusan semacam ini.
                Belajar tentang urusan keluarga seperti ini emang paling YAHUY kalau dari Qurannya langsung. Dikaji berdasarkan tafsir dan ilmu ulama. Urusan rumah tangga jadi terasa SANGAT JELAS. Rumah tangga tidak digambarkan dengan romantisisme antara sepasang pria dan wanita belaka. Cinta yang ada dalam rumah tangga itu seakan-akan menjadi sesuatu yang bisa difikirkan, rasional. Bukan urusan menye-menye belaka. Dan jadi keliatan banget bedanya sistem kerumahtanggaan islam dengan yang lain. Bagaimana wanita itu sangat dimuliakan. KELIATAN BANGET.  I mean like.. kalau misalnya dibilang peran wanita adalah sebagai ibu dan istri tapi tidak menutup kemungkinan untuk berperan di tempat-tempat lain mah.. YAHOO NEWS DOT KOM juga sering memaparkan hal yang sama. Dengan belajar langsung dari Quran, kita tu akan menemukan sampe ke detil-detilnya. Hal-hal yang membuat kita bangga karena agama kita emang sudah paket lengkap dan membuat kita selalu ingin menjalankan keluarga dengan berdasarkan pada quran dan sunnah, bukan Cuma buku-buku roman islami belaka.
                Bahkan dari pengkajian itu aku dapet banyak banget “pencerahan”. Banyak hal-hal yang selama ini kupahami dengan berdasarkan common-sense dari orang islam kebanyakan(yang kuanggap sudah benar)ternyata bisa dibilang.. kurang tepat*kurangnya banyak tapi,hehehe* Misalnya urusan mendidik anak, menyusui, mahar, dan pelayanan terhadap suami. Kalau kata ibukku, banyak dari masyarakat kita yang selama ini berumah tangga dengan pemahaman yang ala kadarnya. NEKAT kalau kata ibukku mah..
                Dan ibu emang sebaik-baiknya madrasah. Ibu adalah orang yang sudah sangat berpengalaman dengan rumah tangga. Beliau bukan bujangan, bukan pula pengantin baru yang masih on-on-nya. Beliau adalah orang yang sudah menghadapi asam garam dan realitas hidup dalam berumah tangga selama berpuluh-puluh tahun. Membahas urusan keluarga dengan ibu berarti kita akan berada jauuuuuuuh sekali dari memaknai urusan ini dengan kata yang bahkan akupun benci ngetiknya : GALAU. Menikah dan punya anak adalah urusan yang serius dan rasional. Saking seriusnya, dan saking jauhnya (ternyata) urusan menikah dari kata galau, aku kadang2 jiper sendiri kalo denger penjelasannya dari ibu. Hahahaha.
                Misalnya waktu itu ibu menjelaskan bagaimanakah yang dimaksud dengan cinta istri kepada suaminya? Menurut syariat, seorang istri tu harus melayani suaminya dengan penuh kecintaan dan penerimaan terhadap apa adanya suaminya(kalo bahasanya KANGEN BAND mah : kucintai dirimuuuu.. apa adanyaaaaaa….*dengan iringan musik ketipung*). Bukan Islam namanya kalau syariatnya absurd. Ulama menjelaskan yang dimaksud dengan melayani dengan kecintaan apa adanya itu seperti : istri itu harus mau menciumi suaminya biarpun suaminya dalam keadaan luka bernanah-nanah. Contoh itu emang terkesan “ekstrim”. Tapi saya yakin pembaca cukup cerdas untuk menangkap makna dari kalimatnya, bukan menelan kalimatnya bulat-bulat.
                Terkadang kajian ini nyasar kemana-mana. Waktu mbahas soal kemungkinan suami untuk beristri lebih dari satu dan sebagainya, aku sama ibukku malah jadi ngobrol asyik tentang RESOLUSI-25ku! Tahu RESOLUSI-25 pemirsa? Itu resolusiku di umur 25 : no more sneakers (kecuali kalo lagi tugas di lapangan), no more backpack(kecuali kalo lagi tugas di lapangan). Say hello to boots atau gladiator shoes yang semuanya harus memiliki HAK! Hak sepatu pemirsah, bukan hak asasi. Atau flat bilamana saya dalam keadaan santai. Hehehe. Dan tentu saja..  “tas wanita”. Pokoknya tema penampilanku di usia tersebut adalah.. imut dan elegan.  Kayak bintang korea gituuu*ngoooook!*. Kalo sekarang kan imut*hueeekk* dan MENCRANG. Ya kurang lebihnya kayak preman kalo sekarang mah..Hahahaha. HIDUP RESOLUSI 25!!!
                Nanti kapan-kapan aku post di blog hasil kajianku sama ibu. Kemarin waktu kajian tentang ayat-ayat keluarga tu aku lagi nggak mood buat nyatet. Aku ndengerin sambiiiiiiiiiiiiiil… tidur-tiduran.. hehehe :p

Pencerdasan via fashion


                    Kerja di Universe boleh berakhir secara structural. Tapi semangat pencerdasannya harus tetep ada. Apa yang sudah dilakukan divisi universe somehow menginspirasiku dalam menciptakan mekanisme dakwah yang akan diusung oleh bisnis fesyenku.
                Aaaw, cita-citaku sama ibu adalah punya butik yang gayanya mirip-mirip sama ZARA dan Promod. One stop shopping. Di situ kita bisa menemukan mulai dari dress, shawl, cardigan, celana panjang, sabuk, tas, sepatu, baik untuk wanita(mainly) pria maupun anak2. Tapi kalau aku sejujurnya tidak begitu berminat untuk terjun ke dunia fesyen cowok. Gila aja yaaa, beberapa waktu yang lalu aku nganter kakakku yang mau beli persediaan baju untuk di Mesir ke sebuah factory outlet khusus cowok di jalan Riau, bandung. Di sana aku stres sendiri. Gara-garanya di sana aku menemukan benda-benda yang menurutku HARAM hukumnya dipake sama cowok. Semisal : kemeja pink, kemeja kembang2, topi2 aneka rupa nan aduhai, celana2 pensil nggak jelas, celana pendek yang potongannya nggembung2 semlohai. Na’udzubillah pokoknya.
                Untuk standar kehidupan orang di Eropa (ZARA adalah jaringan retail fashion punya pengusaha asal Spanyol), butik semisal ZARA dan Promod itu termasuk ke dalam kelas menengah. Harganya standar kalau buat orang Eropa mah. Cuma kalau di-Indonesiain mahalnya jadi bikin jumpalitan.
                Jadi, aku pingin punya butik yang kelasnya menengah gitu. Sasaranku pun lebih ke anak-anak muda. Jadi aku pingin bikin butik yang produknya eksklusif tapi affordable untuk kantong mahasiswa kelas menengah. Kurang lebih standarnya gitu lah.
                Mekanisme dakwah yang kuusung melalui butik-butik ini adalah pencerdasan, seperti yang biasa dilakukan oleh Universe. Karena fesyen adalah hal yang universal, bisa diterima oleh siapa saja, mulai dari gadis kecil berbelalai panjang (Bona dong…) sampai wanita semlohai bermuka plastic(artis2 korea doong), jadi sasaran dakwahnya pun lebih luas. Sasaran dakwah yang luas ini sayang banget kalau nggak dimanfaatkan untuk menyampaikan hal-hal yang belum tersampaikan tentang Islam.
                Tau cara menyampaikannya? BANYAK!
Aku pingin di butikku nanti ada sebuah pojok yang kukasih nama “the issue” atau semacam itu. Penampakan pakaian di sini disesuaikan dengan isu dari dunia islam yang sedang/perlu diangkat. Misalnya akhir-akhir ini Palestina sedang diserang lagi, maka tema fashion di pojok itu adalah “Palestinian hip!”. Ohohoho. Tema itu diwujudkan dalam bentuk kafiyeh yang dimodifikasi jadi blus, cape atau dress, apapun lah yang cocok. Karena kafiyeh itu PALESTINA-BANGET! Atau misalnya isu kelaparan di Somalia. Tema fashion yang diangkat diberi nama “Somaliland”, fashion2 di situ terinspirasi dari gaya berpakaian wanita2 somalia. Keren lhoo gayanya ibu2 di sana. Jubah dan jilbab super besar dengan warna dan pola2 cerah.  Tau nggak sih, menurutku pencerdasan dengan cara yang cewek banget kek begini tu harusnya bisa diangkat oleh divisi keputrian DKM. Hehehe.
Pojok “the issue” itu memang mungkin baru bisa dijalankan kalau proses produksi dan menejemen butikku sudah cukup mapan. Tapi itu bukan berarti dalam masa-masa perintisan kek begini kerja dakwah jadi terlupa. Tetep harus ada unsur pencerdasannya. Yang paling simpel sih meletakkan pencerdasan itu di label merk dengan desain yang se-cathcy dan se-girly-girl-gimanaaa-gitu mungkin *aiih ruwet, hahaha*. Dilakukan dengan “modal seadanya” bukan berarti hasilnya nggak bisa bagus kok. Pokoknya harus tetep… girly-girly-gimanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa-gitcuuu… hihihi*nyengir imut, huek*. Sama sekarang aku kan bikin program fashion for campaign di fashion blogku. Kemarin sudah mengangkat tema Somalia. Hari-hari ini belum ada lagi tema yang diangkat, kalopun ada yang kebayangnya malah skripsi.. ntar fashion for campaign temanya skripsi. Kebayang itu gimana interpretasi gayanya : gadis kucel, sepatu kets dan celana trening berlumpur-lumpur, kaos belel, tas ransel kuning berlumpur-lumpur, payung kecil aduhai, dan muka minta-belas-kasihan [ini styleku tiap ambil data, hahahaha].
Semuanya harus berdoa untukku yaaa?*meksa!hehehe*. Berdoa supaya butikku menggurita, dan supaya hatiku ini dan hati kita semua ditetapkan dalam jalan perjuangan untuk agamaNya.


               

Kamis, 05 Januari 2012

Good Day-IU


Ini lagu yang akhir-akhir ini SERIIIIING BANGET kudengerin. Lagunya asyik, CERIA!! Mirip-mirip sama nama panggilanku : TAZRI (Tazkia Ceria). Hehehe, itu panggilan sayang dari Ika .. :*

Akhir-akhir ini emang sedang bersemangat sekaliiii walopun tidak menutup sooca dengan khusnul khotimah... hahaha*tawa penuh dendam*. Sooca yang tidak khusnul khotimah ini menjadikan SOOCA penutup kemarin berasa masih koma saat teman2 yang lain sudah bisa titik. Tapi entah bagaimana melanjutkan kalimatnya, karena ini sudah di akhir paragraf.

Selamat menjalani 2012 yang penuh dengan rencana yang mendebarkan dan pastinya, kerja keras... Bismillah..


Jumat, 30 Desember 2011

Nilai Departemental #2


               Overall, nilai departementalku bagus. Alhamdulillah. Yaa, kalau membandingkan sama orang-orang yang nilai A-nya kececer-cecer dimana-mana emang nilaiku bisa dibilang standar aja. Tapi aku merasa nilaiku BAGUS! Undebatable! Hehehe. Bahkan aku merasa jenius pisan demi melihat, salah satu nilai ilmu medisku yang paling tinggi (B++, nyaris A lhoo.. hehehe)adalah BIOKIMIA. Ini adalah dewa segala dewanya ilmu kedokteran. Tempat bersemayamnya orang-orang pintar dan teladan lah departemen ini. Hwahahahha. Dan usut punya usut, biokimia masuk ke dalam beberapa ilmu murni kedokteran yang paling aku suka. Yang lainnya ada fisiologi dan imunologi. Tiga ilmu itu aku paling suka deh. Aku jadi merasa disanjung gitu sama Allah.. huehehehe.
                Nilai-nilai departemen klinisku rata-rata B. Yang paling bikin aku senang nilai departemen anestesi. B juga, tapi karena itu adalah salah satu departemen impianku, aku seneng banget waktu nilainya B. hehehe.
                Senengnya dapet nilai departemental itu adalah aku jadi semacam dapet peta kemana aku harus melangkah untuk melanjutkan sekolah. Aku sudah punya bayangan dan gambaran, Alhamdulillah. Tapi Karena bayangan dan gambaran itu masih berupa opsi-opsi, jadi emang harus ada yang menguatkan salah satu opsi lebih dari yang lainnya dengan bukti empiris. Wujudnya mungkin salah satunya dalam bentuk nilai departemental ini.
                Kalau mau dipetakan, mungkin kita harus liat dulu data-datanya :
1.     Nilai A ada di : IKM (semua matkul IKM nilainya A, Alhamdulillah) dan ilmu2 gaib (baca : filsafat ilmu, ilmu sosial dasar, ilmu budaya dasar)
2.     Nilai B++ ada di : kimia medic, biokimia*potong tumpeng*, dan psikologi
   3. Nilai B+ ada di : anatomi*sujud cium tanah*, patologi klinik, ilmu kebidanan dan penyakit kandungan, dan ilmu kesehatan mata.
4.    Nilai B ada di  : BANYAK. Salah duanya ada di departemen yang cukup menarik minatku, anestesi dan ilmu kesehatan anak. (meskipun minatku ke anestesi lebih dominan)

Kalau sudah begini, aku merasa minatku pada Biokimia didukung pisan sama Allah. B++. Hohohoho, Bahagianyaaaa. Terus minat yang akhir-akhir ini muncul pada ilmu anestesi(semua ini gara2 Betty) juga berasa didukung dengan keberadaan nilai B. Mungkin aku bisa lanjutin sekolah dalam bidang ilmu murni biokimia atau imunologi, tapi aku bingung bagemana harus memanfaatkan ilmu itu untuk kepentingan orang banyak yaaa? Cara yang paling gampang sih jadi dosen. Tapi aku males gitu lho kerja kantoran. Hehehe. Atau kalau mau menlanjutkan ke sekolah profesi aku bisa ambil ilmu anestesi kalau dilihat dari minat dan dukungan Allah, hehehe. Terus cita-cita jadi volunteer doctor semakin terbuka lebar karena kalau dari studi kasus yang kulakukan selama ini *duileeeee*, salah satu dokter yang paling sering “kepake” kalau ada tawaran untuk jadi volunteer doctor adalah dokter anestesi. Atau ambil ilmu kesehatan masyarakat? Aku sempet berminat untuk ambil manajemen administrasi rumah sakit, tapi akhir-akhir ini minat pada ilmu kesmas asa menguap tak berbekas gitu. I prefer biokimia atau imunologi bener deh..
Atau…
Ambil S2 di FISIP atau FIB(fakultas ilmu budaya). Bukankah ada dokter yang nyambi kuliah s1 di hukum dan bahkan pakdheku sendiri yang dokter jiwa ambil S2-nya ekonomi-bisnis? Hahaha. Ini cukup random sebenernya, apalagi setelah aku menalak-tiga FIB UGM karena kehadiran fakultas idaman lain which is FK UNPAD, kecil kemungkinan itu fakultas mau rujuk-kembali denganku. Huehehehhe.
Atau..
Bertobat, menebus dosa karena sudah menelantarkan bangsa dan negara melalui nilai matkul pancasila dan kewarganegaraan yang acak adut dengan menjadi calon legislative partai SRI(sumpah di berita ada partai singkatannya begini!) untuk membangun negeri melalui parlemen.. HIIIIII!!! NA’UDZUBILLAH! WOLO-WOLO KUATO SAWEG POSO TELUNG nDINO!!!
Apapun itu aku sangat berharap bisa lanjut sekolahnya di luar negeri. Apalagi aku pernah melihat dengan mata kepala sendiri di internet, beasiswa untuk program biokimia di Inggris. HEBRING NGGAK TUUUH???? Belum lagi dosenku ada yang dokter anestesi lulusan Filipina gitu. Jadi aku pikir, bisa lah yaaa mengawinkan cita-cita jurusan sekolah yang aku minati dengan tempat sekolah di luar negeri. Amin amin amin.


Nilai Departemental #1


               Tadi siang aku menerima nilai departemental dari dosen waliku. Oh iya, buat pembaca yang belum tahu, sistem nilai di FK itu mengandung unsur KEJUTAN! Selama 3,5 tahun belajar kita akan menerima nilai per-sistem. Misalnya sistem saraf, sistem pernafasan, sistem jantung dan pembuluh darah, dan lain-lain. Di tiap sistem kita belajar mata kuliah anatomi, obat2an, dll yg isinya sesuai dengan sistemnya. Semua sistem itu ada nilainya masing2. Di akhir masa belajar, yaitu di semester 7, kita akan menerima nilai departemental. Nilai departemental itu dibaginya bukan berdasarkan sistem, tapi berdasarkan mata kuliah. Misalnya anatomi, obat2an(farmakologi), jampi2.. plak! Dan lain-lain. Inilah kejutannya.
                Tadi siang aku menerima kejutan itu. Dan sebagaimana takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah untukku, nilai-nilaiku, sebagaimana unsure-unsur kehidupanku yang lain.. mengandung bau2 lawak. Waktu liatnya aku ketawa, dan waktu cerita-cerita sama beberapa orang teman tentang nilaiku,  mereka ketawa ngakak. Jadi aku kek semacam cerita ke orang2 tu bukan karena luar biasa gitu nilainya. Cum laude misalnya, ohooo sama sekali tidaaaaaakk*malah bangga*. Tapi karena nilaiku itu agak random gitu lho pembaca..hahaha
                Dimulai dari persebaran nilai. Mayoritas nilaiku adalah B. Mayoritasnya benar-benar mencolok gitu lho. Kalian tidak perlu menghitung untuk tahu kalau nilai mayoritasku adalah B. Dilirik dikit juga udah keliatan betapa B-nya transkrip nilaiku. Hahaha. Makanya ketika ada B++ apalagi A, nilai-nilai itu jadi terlihat seperti berlian di tengah timbunan batu ginjal. Huehehehe.
                Tahu nggak nilai A-ku tersebar di mana aja teman? Aku punya 6 nilai A. 1 di IKM, 1 di manajemen kesehatan, 1 di bahasa inggris, sisanya adalah nilai A terandom(tapi aku merasa sekaligus terwajar) yang pernah kudapat. Nilai A itu aku dapatkan di mata kuliah-mata kuliah yang perasaan nggak ada kuliahnya, nggak nyambung judul mata kuliahnya sama apa yang saya pelajari di kedokteran, tapi sekonyong-konyong dia muncul di transkrip nilai. Gaib emang, ck ck ck. Nilai A yang sisa itu aku dapet di matkul FILSAFAT ILMU, ILMU SOSIAL DASAR, dan ILMU BUDAYA DASAR. YAK! SILAKAN KETAWA! Hahahaha. Waktu aku pertama kali liat nilai ini pun aku ketawa ngakak. Syukur Alhamdulillah Allah menyempatkanku kuliah di sastra setaon. Di transkrip nilaiku jadi ada 3 nilai A bonus. Dapet nilai Anya bisa secara gaib gini bos! Hwahahaha. Waktu aku kuliah di sastra aku emang dapet matkul DASAR2 ILMU BUDAYA. Oke banget kaaan?  Ini tu kek semacam kuliah di kedokteran tapi malah memberikan modal untuk kuliah di sastra. Aku jadi berpikir.. kira2 kalo aku nongol di depan ruang dosen fakultas sastraku yang dulu, aku bakal masih diterima sebagai mahasiswa nggak yaa?*menghayal! Temen2 seangkatanku dulu aje dah pada lulus*
                Aku fail di 3 mata kuliah. Fail means aku harus ambil remedial untuk matkul2 itu kalau mau lulus. Nilai fail pertama yang kusadari ada di matkul Ilmu Bedah. Sebelum menyadari “kegagalanku” itu, aku terlebih dulu menyadari kalau nilai anatomiku B+*sujud cium tanah* Senengnya berasa mau kayang di depan ruang lecture teman! Dari semua matkul yang nggak kuinginkan untuk diremed, anatomi ada di peringkat pertama. Sebabnya, kalau remed anatomi, itu berarti kamu harus mempelajari buku anatomi moore yang tebalnya ampun2an dan isinya anatomi semua  dalam rentang waktu 2 bulan saja. Maboook mabooook. Dan aku merasa kemampuan anatomiku tu layak-dikirimi-karangan-bunga-lambang-duka-cita gitu lhoo..kacau lah.. Makanya waktu anatomi dapet B+, aku senangnya bukan main. LUAR BIASA! Dunia ini lebih berasa indahnya 10 kali lipat!!!*weleh*. Terus aku menyusuri nilai-nilaiku yang lain deh… Dan sampailah pada.. ILMU BEDAH. Eheum.. D sodara-sodara! D! Itu berarti GUE HARUS REMED!! Dan itu kek sama aja gitu loooh, ILMU BEDAH ITU KAN ISINYA ANATOMI SEMUAAAAAAAAAAAAA!!!! Aku langsung garuk2 tanah sambil teriak “mengapaaa? Mengapaaa?”*njuk lebay*. Ini mah  bagaikan keluar dari moncong buaya masuk ke pantat dinosaurus*plak!*. T^T huaaaaaa
                Nilai failku yang lain ada di  matkul PANCASILA sama matkul KEWARGANEGARAAN. Ini mah aku garuk2 tanahnya udah nggak pake tangan, pake cangkul!*loh?* Sungguh aku malu pada patih Gadjah Mada yang mengumandangkan sumpah palapa. Aku membayangkan nanti sewaktu masa-masa remed, teman-temanku pada belajar ilmu-ilmu medis, dan aku, selain harus berjuang membantai anatomi, harus juga jumpalitan menghayati kalimah-kalimah keramat di buku modul matkul Kewarganegaraan. Haduuuh wolo-wolo kuato saweg poso telung ndino.. +_+’

to be continued